Ajaran Manunggaling Kawula lan Gusti Syekh Siti Jenar
Ada yang mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar telah keluar dari ajaran Islam, sesat dan kafir karena mengaku dirinya Tuhan. Tetapi sebagaian orang ada yang mengatakan justru Syekh Siti Jenar adalah ulama yang dekat dengan Allah. Selain Syekh Siti Jenar, Al-Hallaj pun sama, karena telah mengaku Tuhan. Benarkah Syekh Siti Jenar Sesat?

Syekh Siti Jenar dan Al-Hallaj adalah sufi yang menganut ajaran kesatuan wujud (wihdat al-wujud). Di Indonesia popular dengan sebutan Manunggaling kawula lan gusti. Sementara kaum orientalis mengidentikkannya dengan paham pantheistik (bersatunya hamba dengan Tuhan).

Dalam permasalahan ini, para ulama memang berbeda pendapat. Ulama Fiqih mengatakan bahwa, Syekh Siti Jenar telah keluar dari ajaran Islam, karena telah mengaku Tuhan. Tetapi, ulama lain tidak menganggapnya keluar dari ajaran Islam. Hanya saja, orang yang mengatakan ana Allah (saya adalah Allah) perlu di ta’zir (dihukum). Sebab, dapat membahayakan akidah orang-orang awam.

Jika kita menggunakan kacamaca sufi (tasawuf), orang yang mengatakan demikian tidak dianggap keluar dari ajaran Islam. Sebab dalam pandangan sufi, aku (ana) yang sesungguhnya adalah Allah. Sedangkan nama (Jenar, Ahmad, Hallaj, atau Mukmin) adalah pinjaman dan sifatnya temporer (semestara waktu). Demikian juga dengan kata ganti dia, kamu, saya adalah pinjaman, dan pemilik sesungguhnya adalah Allah.

Karena itu, ketika seorang sufi mengatakan “ana Allah” (saya adalah Allah), maka yang dimaksud dengan kata “ana” (kata ganti menunjuk orang pertama) di situ adalah “ana” yag sesungguhnya, yaitu Allah. Ucapan di atas harus dibedakan dengan perkataan Firaun dalam Al-Quran yang mengatakan “ana robbukum al-a’la” (saya adalah Tuhan kalian semua yang maha luhur). Kata-kata Firaun tersebut telah jelas-jelas mengaku dirinya sebagai Tuhan (robbukum al-a’la). Sedangkan ungkapan sufi, “ana Allah” tidak mengindikasikan kalau dirinya adalah Tuhan. Hanya menegaskan bahwa “aku” yang sesungguhnya adalah Allah.

Jadi, jelas bahwa kasus yang dialami oleh Syeh Siti Jenar tidak sesat atau kafir jika ditinjau dari kacamata sufi. Bagaimana dengan sejarah yang menceritakan bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati oleh para wali? Nah, ini ada korelasinya dengan penyebaran Islam di tanah jawa. Karena dahulu pemeluk agama Islam masih sedikit, maka kesepakatan para wali adalah menghukum mati Syekh Siti jenar, karena dikhawatirkan membahayakan orang-orang awam. 

Copyright by: Toto Si Mandja