Akar Sejarah Indonesia
Toto Si Mandja – Akar Sejarah Indonesia
Berdasarkan penemuan-penemuan arkeologis dari beberapa daerah di Nusantara, wilayah yang kini disebut Indonesia ini pernah dihuni oleh salah satu ras tertua manusia prasejarah yang berumur kira-kira 40.000 tahun yang lalu. Akan tetapi, dalam ilmu genealogis, sangat diragukan bila orang-orang Indonesia modern adalah keturunan dari manusia purbakala tersebut. Hal ini selain disebabkan oleh lemahnya teori Darwin tentang asal-usul kejadian manusia, juga disebutkan bahwa manusia Indonesia sejak 600 tahun Sebelum Masehi, telah mampu mengembangkan kebudayaan mereka dalam bercocok tanam dan menanam padi. Lebih dari itu, bahkan para peneliti meyakini orang-orang Indonesia kuno, telah mampu membina kekuatan sosial yang sangat besar, di antaranya adalah kekuatan maritim dalam mengarungi lautan Indonesia.
Dalam masalah tradisi, masyarakat Indonesia kuno dipengaruhi oleh kepercayaan animisme terhadap benda-benda. Yakni kepercayaan bahwa benda-benda mati di sekelilingnya, seperti, batu besar, kayu, gunung-gunung, pepohonan memiliki roh. Dan bahkan, mereka juga menyembah roh leluhurnya yang dianggap telah banyak berjasa terhadap kehidupan dan kesejahteraan mereka. Roh leluhur ini biasanya disebut sebagai hyang, atau yang, yang berarti Tuhan. Selain itu, masyarakat Indonesia kuno juga mempercayai akan kemampuan roh-roh tersebut untuk dapat menolong mereka dari penyakit, penderitaan, kematian, dan segala mara bahaya dunia. Mereka juga percaya akan kekuatan roh yang dapat mendatangkan kemakmuran, kesejahteraan dan kesuburan lahan yang mereka garap. Tidak hanya itu, masyarakat Indonesia kuno bahkan meyakini bahwa alam semesta memiliki tatanan dengan kekuatan spiritual yang dapat mengendalikan kehidupan manusia sehari-hari. Untuk menghormati roh-roh yang diyakini memiliki kekuatan spiritual itu, agar dapat mendatangkan kemakmuran dan menjauhkan mereka dari segala penderitaan, mereka menyiapkan ritual-ritual khusus yang dilembagakan dan dilaksanakan pada momen-momen penting. Misalnya, saat panen tiba, ketika bepergian, kelahiran bayi, pesta perkawinan, dan upacara kematian. 
Sisa-sisa ritual kuno ini, sampai sekarang dapat kita saksikan dalam bentuk batu-batuan dan tempat peribadatan di beberapa daerah di wilayah Nusantara ini. Seperti yang terdapat di daerah-daerah tertentu di Jawa, penghormatan kepada danyang desa (roh pelindung desa) masih sering ditemukan dalam tradisi sebuah desa. Mereka biasanya meyakini, bahwa danyang desa yang telah berjasa membuka daerahnya itu, mengawasi gerak-gerik mereka setiap saat. Sebab itu ia harus dihormati dengan memberikannya sesajian lengkap bersama kemenyan yang diletakkan di sebuah pohon besar atau sendang yang diyakini sebagai tempat angker (tak dapat didekati).  
Copyright by: Toto Si Mandja