Asal-usul Desa Tenajar Kecamatan Kertasemaya

Sejarah
Toto Si Mandja – Asal-usul Desa Tenajar

Diceritakan bahwa di penghujung abad ke 14 M diwilayah Negeri kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Sri Paduka Prabu Siliwangi yang pada saat itu diambang keruntuhan, hal ini disebabkan karena pengaruhi masuk dan berkembangnya  agama islam yang dibawah oleh para Wali, oleh karenanya beliau beserta penggedenya meninggalkan Negeri Pajajaran karena diperkirakan dirinya akan mendapat malu karena tidak akan mampu menandingi kesaktian para wali terutama Syekh Syarif Hidayatillah (Sunan Gunung Jati), sebelum Sri Baginda Prabu Siliwangi berangkat, Beliau memerintahkan salah satu patihnya yaitu  KiArya Bangka (Kigeden Suka Urip) untuk tetap menjaga pesisir utara menghadang para wali, selain itu ada patih lainya yang bernama Begawan Juwana beserta anaknya Raden Kangka Juwata, mereka tidak mau ikut pergi bersama Sri Paduka Prabu Siliwangi, karena mereka ingin menjajal ilmu Kanuragan para Wali yang katanya sakti mandraguna dan banyak pangaweruhnya,
     Pada suatu waktu Begawan Juwana mendengar bahwa di pedukuhan sebelah selatan, telah berdiri pengguron Islam yang dipimpin oleh Pangeran Walangsungsang peparap mbah Kuwu Cirebon, dan pengguron tersebut konon dikabarkan telah banyak memiliki murid, diantaranya adalah seorang perempuan bernama NYI MAS MEDANGSARI yang sakti mandraguna datang dari Negeri Campa malaka dan NYI MAS GANDASARI untuk berguru agama Islam dan karena kesaktianya kedua wanita tersebut diangkat menjadi senopati dipengguron tersebut. Sebetulnya Nyi Mas Mendangsari pergi bersama dengan saodara sepuhpuhnya yaitu Syekh JABARANTA Peparap Syekh Lemah Abang, namun karena ajaran Syekh Lemah Abang keyakinanya tidak didasari oleh syareat, maka Nyi Mas Mendangsari memisahkan diri.
     Mengdengar hal tersebut Ki Begawan Juwana beserta anaknya Raden Kangka Jawata, bergegas pergi menuju pengguron tersebut untuk mengayoni kesakten para pengikut agama Islam, namun sebelum sampai ditempat tujuan Begawan Juwana dan anaknya bertemu dengan Nyi Mas Mendangsari dan Kiarya Bangka yang terlebih dahulu telah ditundukan oleh mbah Kuwu Cirebon yang kemudian masuk Islam. Dalam pertemuan tersebut terjadilah perdebatan tentang keyakinan yang berlanjut keperang tanding kesakten, pada peristiwa tersebut KiBegawan Juwana dan anaknya dapat dikalahkan dan kemudian mereka dibawa kehadapan sang Guru Mba Kuwu Cirebon, sesampainya dihadapan mbah Kuwu Cirebon diceritakan asal muasal pertemuan tersebut yang kemudian oleh mbah Kuwu Cirebon diterima sebagai murid dan sekaligus diangkat sebagai prajurit. dalam perjalanan menyebarkan agama Islam mbah kuwu Cirebon banyak mengalami hambatan dan tantangan, namun berkat adanya Prajurit-prajurit yang sakti dan penuh pengabdian  Seperti Nyi Mas Gandasari, Nyi mas Mendangsari, Begawan Juwana, Raden Kangka Jawata, Kiarya Bangka dan prajurit-prajurit  lainya, semua hambatan dan tantangan seperti datang dari Kerajaan Galuh dan kerajaan lainya dapat diselesaikan dengan baik.
     Cirebon sebelum menjadi sebuah Negeri berbentuk kesultanan adalah sebuah pedukuhan yang dipimpin oleh seorang yang bergelar  kiageng Pengalang-ngalang, sekalipun hanya sebuah pedukuhan namun pedukuhan tersebut  sudah dikenal diseluruh wilayah Jawa dan lebih dikenal lagi setelah kepemimpinanya digantikan oleh Raden Walangsungsang (mbah Kuwu Cirebon) yang didampingi oleh istrinya Nyi Mas Endang Geulis, mampu memajukan pedukuhan tersebut dengan mengolah pasaran Gerage dan Cai Rebonya, disamping memajukan warganya secara ekonomi Embah Kuwu Cirebon berencana menjadikan Wilayahnya sebuah Negeri yang warganya menganut agama Islam, rencana tersebut baru terwujud setelah datangnya Syekh Syarif Hidayatillah dari Negeri Arab yang kemudian dikikahkan dengan putrinya yang bernama Nyi Mas Pakungwati.
Terbentuknya Desa Tenajar.
     Setelah sebuah pedukuhan yang dipimpin oleh mbah Kuwu Cirebon menjadi kesultanan Cirebon, tatanan kepemerintahan Negeri tersebut berjalan baik dan semakin disegani di seluruh tanah jawa.

Suatu ketika disaat mbah kuwu Cirebon sedang melakukan sholat tiba-tiba terdengan bisikan bahwa dipantai utara akan dijadikan pedukuhan oleh seseorang dan orang tersebut bukan penganut agama Islam, oleh karena itu mbah kuwu Cirebon langsung memanggil Nyi Mas Gandasari, Nyi Mas Mendangsari dan Raden Kangka Jawata, untuk mencari dimana dan siapa orang tersebut, setelah mendapat perintah tersebut ketiganya lanmgsung berangkat mencari, dari gunung sumbing, hutan dipenghulu sungai citarum, hutan dipenghulu sungai ciponegoro, dan terakhir hutan dipenghulu sungai cimanuk, dalam perjalananya setiap istirahat Nyi Mas Mendangsari selalu melakukan tapa untuk menenangkan diri dan mencari petunjuk, kali ini Nyi mas Mendangsari bertapa disebuah hutan dan duduk dibuah batu sebagai JENGKOK,  ketika Nyi Mas Mendangsari sedang bertapa tiba-tiba berkelebat dalam pikiran seseorang Kliwad-Kliwed dan menghilang kearah utara, karena hal tersebut Nyi Mas Mendangsari, Nyi Mas Gandasari dan Raden Kangka Jawata mengikuti kelebatan tersebut, kemudian selama tiga hari mengikuti kelebatan tersebut tiba-tiba di hutan dihulu sungai cimanuk terdengar suara umpatan seseorang bahwa ā€œ Bagi siapa yang mampu membantunya membabat hutan ini kami akan panut dan tunduk kepadanya ā€œ karena umpatan itu kemudian atas perintah Sunan Gunung jati Nyi Mas Mendangsari menyamar sebagai Dewi Larawana dan Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai Nyi ENDANG DARMA kemudian muncul menemui seseorang tersebut yang ternyata adalah Raden WIRALODRA putra dari Tumenggung Singalodra dari Negeri Bagelen yang sedang membabad hutan, tapi pepohonanya selalu tumbuh kembali ketika ditebang, kemudian Nyi Mas Mendangsari menyapa dan berkata bahwa kalau andika ingin bisa membabad hutan ini, ucapkan dua Kalimah Syahadat, mendengan ucapan Nyi Mas Mendangsari tersebut Raden Wiralodra marah sehingga terjadilah perkelahian, diceritakan kurang lebih 4 atau lima hari perkelahian tersebut kemudian Raden Wiralodra kalah kemudian tunduk dan mau mengucapkan dua Kalimah Syahadat, setelah itu Raden Wiralodra langsung melanjutkan membabad hutan dan sekali babad, sekali tendang, sekali injak langsung roboh pepohonan tersebut rata dengan tanah, kemudian jadilah pedukuhan yang sekarang menjadi INDRAMAYU.

Setelah Nyi Mas Mendangsari, Nyi Mas Gandasari dan Raden Kangka Jawata selesai melaksanakan tugas menundukan Raden Wiralodra, kemudian ketiganya kembali kekeraton Cirebon menghadap ke Sunan Gunungjati dan mbah Kuwu Cirebon untuk melaporkan, oleh Sunan Gunung Jati dan mbah Kuwu Cirebon disambut baik dan disarankan ketiganya untuk istirahat.
Copyright by: Toto Si Mandja
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.