Bukti Orang Sunda Kebal Virus Corona

Belakangan ini dunia digemparkan dengan Virus Corona yang terdeteksi di Kota Wuhan, China. Negara di belahan dunia, seolah memberikan peringatan bahaya virus yang menggemparkan ini.

Konon katanya, penyebab virus ini karena mengkonsumsi daging mentah. Tetapi entah mengapa teman yang makan temannya sendiri tidak terkena virus Corona.

Aneh tapi nyata. Seharusnya teman yang selalu makan temannya, meninggal atau minimal kejang-kejang gimana gitu yah. Karena keringat temannya harum timbunan oli bekas motor 60-an. Semakin dewasa teman justru bukan makan teman lagi, tapi makan pasangan orang. Lagi-lagi, anehnya tidak terkena virus Corona. Geleng-geleng kelapa, eh kepala. Hehe. #ngawur

Kembali ke laptop…

Tahukah kamu, bahwa orang Sunda sebenarnya tidak mesti khawatir dengan virus ini. Lho, kok gitu?

Orang Sunda sudah terbiasa dengan virus Corona. Istilah bahasa kerennya “aya dina kahirupan sapapoe” atau ada dalam kehidupan sehari-hari. Malah akrab lho.

Keren yah, orang Sunda bisa akrab dengan virus Corona. Hehe.

Mana buktinya?

Nih, buktinya ada di cerita berikut.

Cerita Pertama

Emak Nyeuri Ti Corona (Emak Sakit Tenggorokan)

Emak: “Kasep, enggal peserkeun emak larutan ‘Cap Sempak’, tiCorona emak nyeuri”. (Ganteng, cepat belikan emak larutan ‘Cap Sempak’, tenggorokan emak sakit)

Udin: “Geuning, Cap Sempak, Mak! Apanan biasa na emak mah larutan Cap Tiga Roda.” (Kok, Cap Sempak, mak! Biasanya kan emak minumnya larutan Cap Tiga Roda).

Emak: “Jurig siah! Sakalian weh emak di cor”. (Setan kamu! Sekalian aja emak di cor) πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Para pembaca yang budiman (Budi & Maman) πŸ˜‚

Cerita di atas membuktikan bahwa virus Corona itu bisa diobati dengan larutan ‘cap sempak’. Ingat, kalau beli larutan yang ada gambar sempaknya yah! Emak juga minum kok. πŸ˜‚ #korbaniklan

Cerita Kedua

Udin Bengkok TiCorona

Suatu hari, abah sedang memasak di dapur provinsi. Mengingat hari itu emak ulang tahun ke-71. Abah ingin ultah emak dirayakan besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, satu provinsi diundang semua. Tapi tidak ada yang datang, kecuali anak tunggal, menantu dan satu cucunya.

Abah: “Dah, ari anak maneh kamana? geuning, duaan wae jeung salaki kadieu teh?” (Dah, anak kamu kemana? kok, ke sini berdua saja sama suami), tanya abah pada Odah, panggilan sayangnya semasa kecil dulu.

Odah: “Teuing bah, tadi mah ngomongna arek ulin heula cenah.” (Enggak tahu bah, tadi sih bilangnya mau main dulu), jawab Odah sebisanya.

Abah: “Heueuh, nya geus. Hayu urang dahar, geus gogorowokan wae yeuh beuteung teh. Keun weh si Udin mah, ke oge kadieu sorangan.” (Ya sudah. Ayo kita makan, perut sudah teriak-teriak nih. Biar saja si Udin, nanti juga ke sini sendiri)

Lap lep, lap lep!

Makanan sudah masuk semua ke penggilingan perut.

Udin: Emaaaaaaaakkkkkk, Udin dataaaannnggggg! Hepibesdey to emak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Abah: “Tah, jol budakna.” (Tuh, anaknya datang)

Emak: “Dasar si Udin mah tiCorona bengkok”. (Dasar si Udin tenggorokannya bengkok) πŸ˜‚

Odah: “hmmm bengkok tiCoro na, dahareun seep, karak datang” (hmmm tenggorokan bengkok, makanan habis, baru datang). πŸ™„πŸ˜…

Bengkok Ticoro dalam bahasa Sunda artinya tidak kebagian makanan karena terlambat datang.

Obat virus tiCorona bengkok menurut para ahli ‘mumuluk’ adalah makan sisa-sisa makanan yang masih layak kunyah. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Cerita Ketiga

Udin: “Dih, emak hudang sare Corona madet.” (Dih, emak bangun tidur Corona madet).

Emak: “Ieu anu ngagrawil mah KORONGNA Udin, lain CORONA” (Ini yang bergelantungan KORONGNA Udin, bukan CORONA). #gagangpaculmelayang

Dari cerita di atas jelas bahwa Corona bukan Korong, TITIK.

Cerita Keempat

Melan: “Cik atuh Din, boga Corona teh dijaga. Maneh mah siga awewe wae” (Coba Din, punya Corona tuh dijaga. Kamu kaya perempuan aja) πŸ€•

Udin: “CONGORNA meureun! maneh mah geuning CORONA?” (CONGOR kali! kamu kok bilang CORONA)

Melan: “Heueuh CORONA maneh bau jengkol” (Iya CORONA kamu bau jengkol).

Udin: CONGORNA maneh tah (MULUTmu tuh) πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Dari cerita keempat ini membuktikan bahwa CONGORNA lebih berbahaya daripada CORONA. Congor bisa membicarakan siapa, kapan dan dimana saja pengidap Congor berada. Apalagi kalau paginya sarapan jengkol. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Hikmah yang bisa dipetik dari cerita-cerita di atas adalah tidak ada. πŸ˜‚

Silakan lanjutkan aktivitas masing-masing.

Tetap woles hadapi virus Corona, nyeuri tiCorona, bengkok tiCorona, Korongna dan Congorna tetangga. πŸ˜…πŸ˜‚

Salam Literasi,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *