Coretan Anak SMP Cikal Bakal Karakter Peremanisne

Bahasan ini masih tentang coretan yang tak bermakna. Tapi menurut mereka penuh kenangan dan warna. Coretan yang menghina. Coretan yang tidak seharusnya. Coretan yang bukan pada tempatnya.

Selama saya sekolah SD, SMP, bahkan SMK tidak pernah sekali pun mencoret-coret seragam sekolah. Karena saya sadar, bahwa saya tidak pintar bahkan cerdas. Prinsip saya, jika tidak cerdas, jangan melakukan hal-hal yang bodoh. Karena sebaik apapun seseorang, yang menilai adalah orang lain, bukan diri kita sendiri. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut orang lain. Berkacalah sebelum melakukan sesuatu. Jangan hanya pakai kacamata sendiri, tapi lihatlah dari berbagai kacamata orang lain pada umumnya.

Masa SMP sederajat memang masa pubertas.  Segala sesuatu selalu saja ingin dicoba-coba tanpa pikir panjang akibat yang akan ditanggung. Bagaimana, apakah, siapa, mengapa, hal itu silakukan memang harus dipikir matang-matang dengan menggunakan kacamata orang lain. Karena tanpa kesadaran semua hal apapun yang dilakukan dihalalkan demi tercapai hasrat masa remaja yang membuta. Perilaku coret-coret seragam dikalangan anak SMP, akan menjadi cikal bakal karakter premanisme. Karena pasti ketika mereka lanjut ke jenjang SMA akan melakukan hal yang sama, meski pun ada larangan dari pihak sekolah. Awal pembangkangan ini lah yang menjadi modal premanisme dikalangan siswa. Ini belum termasuk kenakalan-kenakalan yang lain seperti, perta miras, seks, ugal-ugal dan lainnya. Ironi memang.

Apakah guru salah dalam masalah ini? Tidak. Dalam hal ini guru tidak bisa disalahkan. Karena tugas mereka begitu kompleks membemperi tugas-tugas orang tua siswa yang keseluruhan memasrahkan kelanjutan pendidikan anak-anak mereka. Orang tua yang bijak, jika ada guru yang disalahkan dalam hal pendidikan anak yang mewakilinya seharusnya menjadi pelindung dan ikut memberi penjelasan. Ko bisa, karena orang tua tidak bisa secara langsung mendidik anak, oleh sebab itu mereka limpahkan ke sekolah untuk kelangsungan pendidikan formal anak-anak mereka. Peran orang tua dalam hal ini sangat besar. Pengawasan dan pembinaan orang tua adalah protektor yang sangat efektif perkembangan karakter anak.

Copyright by: Toto Si Mandja
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.