E-Learning Bikin Pusing? Diasyikin Aja!

Sejak mengajar di SMK tiga tahun silam (2017), saya menggunakan e-learning. Meski pun jebolan Guru PAI, bagi saya penguasaan teknologi adalah keharusan. Hingga pertama masuk menjadi guru SMK pun langsung ditawari menjadi guru produktif RPL. Mungkin pihak sekolah mendengar desas-desus, keterampilan saya dibidang komputer lumayan, walau pun tidak jago-jago amat.

Yo wes, apa mau dikata, saya terima saja. Sesekali hati saya tertawa dan bergumam.

“Lulusan PAI ngajarnya Komputer hahaha.”

Bagi saya, komputer bukan hal yang baru. Sejak menjadi siswa SMK pun, mengambil jurusan komputer dan lulus uji kompetensi. Jadi, meski pun dipaksa jadi guru komputer, ya no problem.

“Tantangan itu harus dihadapi, bukan dihindari.”

Apa yang saya pelajari dulu, memang jauh berbeda dengan kurikulum saat ini. Tapi, pada dasarnya sama. Jadi, saya cukup mempelajari itu sambil jalan saja. Sesekali mengingat-ingat dan memperdalam ilmu “kanuragan” komputer.

Pembelajaran praktis adalah pembelajaran yang dilakukan dimana saja, dan memudahkan semuanya. Sambil menyelami psikologi siswa, saya memperkuat e-learning untuk ketahanan di masa yang akan datang. Karena sebagian besar guru tidak menyukai ini. Bahkan masih ada yang memertahankan “trik kuno” dalam mengajar.

Membangun e-learning sendiri itu sebuah tantangan. Disaat guru lain hanya menggunakan, saya berdarah-darah membangun e-learning hingga korban uang dan waktu. Meski pun yang saya bangun adalah ciptaan orang lain, tapi memodifikasinya adalah usaha yang melelahkan. Saat ini e-learning yang saya bangun digunakan olah beberapa sekolah dan kampus untuk USBN dan Ujian Semester.

Adanya mesin pencari di internet, memudahkan orang untuk mencari sesuatu. Termasuk rumus-rumus aplikasi e-learning.

Tugas Anda, niatkan dalam hati ingin membangun e-learning sendiri. Cari rumus-rumusnya dan segera bangun sendiri. Memang butuh keterampilan khusus, tapi hasilkan akan luar biasa.

Disaat guru-guru sedang menjerit di masa pandemi Covid-19. Saya santai dengan sistem e-learning yang sudah diperkuat diawal. Disaat yang lain latah menggunakan e-learning, saya sudah menggunakannya dan menganggap itu penting.

Bisa apa saja dengan e-learning?

  • Mengunduh materi pembelajaran
  • Diskusi daring
  • Pengumpulan tugas
  • Ujian daring
  • Melihat pengumuman
  • Presensi daring
  • Dan lain sebagainya

Saya tidak perlu menghabiskan dana sekian rupiah hanya untuk ulangan harian. Cukup buat soal, upload dan siswa mengerjakan itu dimana saja, dengan waktu yang ditentukan.

Apakah semua siswa mempunyai smartphone? Tidak.

Solusinya, dekati teman yang paling asyik smartphone-nya diajak join. Mudah kok! Gak usah dibawa ribet!

Bagaimana kalau mereka join jawabannya?

Di e-learning tertentu kita bisa mengetahui jawaban sementara siswa, waktu mengerjakannya, dan rincian lainnya. Sehingga guru bisa menyuruh siswa untuk mengulangi jika mereka melakukan kecurangan.

E-learning adalah style. Gaya guru mempraktiskan pembelajaran yang diampunya.

Semua kembali ke style masing-masing. Sehebat apapun kecanggihan e-learning, jika guru bertahan dengan “kekunoannya”, segeralah mengubah haluan! Kita sekarang hidup di era serba digital. Era dimana “orok” yang baru lahir sudah bisa main smartphone. Era dimana anak mengajari orang tuanya menggunakan video conference untuk mengikuti pelatihan daring.

Silakan pilih style-nya! Pilihan Anda menentukan kemajuan berpikir.

Salam Literasi,

10 thoughts on “E-Learning Bikin Pusing? Diasyikin Aja!

  1. Keren banget sobat yang satu ini, bisa memberi motivasi buat emak2 yang sudah mulai loyo. Coba atuh bagi2 aplikasina….!

Comments are closed.