Habibie dan Teori Keretakan Pesawat Temuannya

Artikel
Biografi Habibie
Sosok manusia Multidimensional “Tidak memprioritaskan teknologi dan ilmu pengetahuan adalah salah. Seluruh dunia tahu bahwa tidak ada kemajuan tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi”.

Habibie adalah tokoh yang begitu dibanggakan bangsa ini pada era 80-an hingga kini. Kita sungguh bangga kepadanya karena berhasil merancang pesawat terbang CN-235 dan N-250 yang membawa harum nama Bangsa Indonesia di mata internasional.

Mantan Presiden RI ketiga, si Genius ilmuan konstruksi pesawat terbang ini lahir di Pare-pare pada tanggal 25 Juni 1936, dengan nama lengkap Bachruddin Jusuf Habibie. Pada masa kejayaannya, segudang jabatan diembannya. BJ. Habibie adalah manusia paling multidimensional di Indonesia. Dia menusia cerdas yang sempat menghadirkan banyak harapan bagi kemajuan teknologi negeri ini.

Habibie hanya kuliah setahun di ITB Bandung, sebelum terbang ke Jerman untuk kuliah selama puluhan tahun. Ia meraih gelar doktor pada bidang konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat summa cum laude. Setelah itu, ia bekerja di industri pesawat terbang terkemuka di Jerman. Kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk memenuhi panggilan Presiden Soeharto.

Posisi yang pernah diembannya adalah menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mendirikan dan menjadi Ketua Umum ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), memimpin sepuluh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Industri Strategis, dipilih MPR menjadi wakil presiden RI, untuk menggantikan Soeharto yang menyerahkan jabatan presiden kepadanya berdasarkan Pasal 8 UUD 1945.

Pada tanggal 10 Agustus 1995, Habibie berhasil meluncurkan pesawat terbang N-250 “Gatotkoco”. Pesawat itu hasil karya asli putra-putra terbaik bangsa yang tergabung dalam PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang kini menjadi PT. Dirgantara Indonesia.

Ketika menjabat sebagai Presiden RI selama setahun, ternyata menurut beberapa sumber di sekitar presiden, Habibie tidak pernah mengambil gajinya sama sekali. Baginya, gaji bulanannya itu lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan rakyat banyak daripada dinikmati sendiri. (totosimandja)

Kesuksesan B.J. Habibie diluar negeri membuat presiden Soeharto tertarik padanya dan mengajaknya pulang untuk bersama membangun Indonesia. Sepulang ke Indonesia Habibie mengabdi pada bidang kedirgantaraan. Berikut sepak terjang beliau di Indonesia setelah kembali dari Jerman.

  1. 1976 – 1998 Direktur Utama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara/ IPTN.
  2. 1978 – 1998 Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
  3. 1978 – 1998 Direktur Utama PT. PAL Indonesia (Persero).
  4. 1978 – 1998 Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam/ Opdip Batam.
  5. 1980 – 1998 Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (Keppres No. 40, 1980)
  6. 1983 – 1998 Direktur Utama, PT Pindad (Persero).
  7. 1988 – 1998 Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis.
  8. 1989 – 1998 Ketua Badan Pengelola Industri Strategis/ BPIS.
  9. 1990 – 1998 Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia/lCMI.
  10. 1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
  11. 10 Maret – 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
  12. 21 Mei 1998 – Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia. (penggagas)

Beberapa rancangan Habibie yang terkenal dan mendunia adalah:

  1. VTOL (Vertical Take Off & Landing) Pesawat Angkut DO-31
  2. Hansa Jet 320 (Pesawat Eksekutif)
  3. CN – 235
  4. Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-160
  5. Airbus A-300 (untuk 300 penumpang)
  6. N-250
  7. Helikopter BO-105
  8. Multi Role Combat Aircraft (MRCA)        

Penemu Teori Keretakan Pesawat
Kepakaran beliau di bidang teknologi auronautika atau ilmu pesawat terbang menjadikannya sebagai salah seorang pemegang hak paten dari beberapa teknologi penerbangan. Salah satu  teori yang beliau temukan di dunia penerbangan adalah tentang teori keretakan pesawat. Dengan teori ini, beliau berusaha meminimalisir tingkat kecelakaan penerbangan hingga mampu menyelamatkan jiwa manusia.

Teori ini berawal dari kenyataan bahwa pada tahun 1960 perkembangan teknologi pesawat terbang belum sepesat seperti sekarang, banyaknya musibah pesawat terbang yang terjadi karena kelelahan (fatique) pada bodi pesawat. Biasanya titik rawan kelelahan ini terjadi di sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang, atau antara sayap dan dudukan mesin. Sebab elemen inilah yang secara terus-menerus mengalami guncangan keras, baik ketika sedang take off ataupun landing.

Di saat sebuah pesawat melakukan take off, sambungannya menerima tekanan udara (uplift) yang besar. Begitu ketika sebuah pesawat akan melakukan landing dan menyentuk landasan, bagian ini pula yang menanggung hempasan tubuh pesawat. Akibatnya kelelahan pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (crack). Semakin hari keretakan itu semakin memanjang dan dapat berakibat fatal, karena sayap pesawat bisa patah tanpa diduga. Hal ini menyebabkan potensi fatique semakin besar.

Di sinilah peran seorang BJ Habibie yang kemudian datang menawarkan sebuah solusi. Beliaulah yang menemukan bagaimana rambatan titik crack itu berkerja, yang kemudian dikenal dengan nama teori crack progression.

Dengan teorinya, Habibie berhasil menghitung crack itu dengan rinci sampai pada hitungan atomnya. Hal ini tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharannya lebih mudah dan murah. Teori crack progression atau yang lebih dikenal dengan Faktor Habibie, porsi rangka baja pesawat bisa dikurangi dan diganti dengan dominasi alumunium dalam body pesawat terbang. Dan dapat mengurangi bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar sampai 10 persen dari bobot konvesionalnya.

Faktor Habibie ternyata juga memiliki peran dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian kerangka pesawat. Sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara ketika pesawat take off. Begitu juga pada sambungan badan pesawat dengan landing gear jauh lebih kokoh sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat. Masalah penstabilan kosntruksi di bagian ekor pesawat ini dapat dipecahkan Habibie hanya dalam masa 6 bulan saja.

Penemuan-penemuan yang berhubungan dengan konstruksi pesawat terbang dikenal dengan teori Habibie, Faktor Habibie, dan metode Habibie. (putramelayu)

Copyright by: Toto Si Mandja
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.