Islam Periode Klasik
Toto Si Mandja -Islam Periode Klasik

Perkembangan Islam klasik ditandai dengan perluasan wilayah. Ketika tinggal di Mekah, Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya mendapat tekanan dari kalangan Quraisy yang tidak setuju terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. 
Karena tekanan itu, Nabi Muhammad SAW terpaksa mengirim sejumlah pengikutnya ke Abesinia yang beragama Kristen Koptis untuk mendapatkan suaka. Itulah fase Mekah yang membuat Nabi Muhammad SAW bertahan di Mekah atas dukungan keluarga. Setelah itu, istrinya, Khadijah, meninggal dunia. Tidak lama kemudian, kepala sukunya meninggal, lalu digantikan oleh orang yang tidak simpati kepadanya.
Pada tahun 620 M., Nabi Muhammad SAW membuat persetujuan dengan sejumlah penduduk Yatsrib yang terkemuka yang membuat ia dan pengikutnya diterima di kalangan mereka. Didahului dengan kelompok kecil yang bisa dipercaya, kemudian Nabi Muhammad berhijrah ke Yatsrib. Setelah itu, Yatsrib disebut Madinah.
Di Madinah, umat Islam dikelompokkan menjadi dua: 1) umat Islam yang berasal dari Mekah dan ikut berpindah ke yatsrib, yang disebut Mujahirin, dan 2) umat Islam yang berasal dari Madinah, yang menerimam kedatangan umat Islam dari Mekah. Kelompok kedua ini disebut Anshar. Di samping itu dua kategorisasi diatas, masih terdapat masyarakat yang tetap memeluk agamanya semula yang tidak berpindah untuk menganut agama Islam.
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam berikhtilaf tentang penggantinya. Menurut satu versi, Nabi Muhammad SAW telah menentukan penggantinya dengan cara wasiat. Kelompok yang beranggapan seperti ini, dalam sejarah, disebut Syi’ah. Sedangkah versi kedua berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menentukan penggantinya, sehingga mereka bermusyawarah di Tsaqifah Bani Sa’dah untuk memilih penggati Nabi Muhammad. Kelompok kedua ini kemudian dikenal sebagai kelompok Sunni.
Abu Abbas pendiri Dinasti Bani Abbas (750-654 M) Pembina sebenarnya adalah Al-Manshur (754-775 M). sebagai usaha mempertahankan dinasti yang berada ditangannya, Al-Manshur memindahkan ibu kota Negara, dari Damaskus ke Baghdad. Selain itu, ia juga tidak menjadikan orang-orang Arab sebagai pengawalnya. Ia lebih memilih orang-orang Persia. Tradisi baru yang dilakukan oleh Al-Manshur adalah mengangkat jabatan wazir yang membawahi kepala-kepala departemen. Wazirnya yang terpilih adalah Khalid bin Barmak yang berasal dari Persia.
Harun Al-Rasyid (813-833 M) sangat memperhatikan ilmu pengetahuan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab, ia menggaji para penerjemah dari golongan Kristen, Sabi dan penyembah binatang. Di samping itu, ia pula mendirikan Bait Al-Hikmah. Al-Mu’tasim (833-842 M) adalah raja pertama yang mengangkat pengawalnya dari kalangan Turki. Tentara-tentara Turki dalam perjalanannya ternyata sangat berkuasa di istana. Akhirnya, raja hanya berkuasa secara simbolik, yang berkuasa secara de facto adalah tentara-tentara Turki.
Al-Wasiq (842-847 M) berusaha melepaskan cengkraman tetara-tentara Turki dengan memindahkan ibu kota Negara Baghdad ke kota Samara. Tetapi kekuasaan tentara-tentara Turki tidak dapat disingkirkan. Al-Mutawakkil (847-861 M) merupakan raja besar terakhir dari Dinasti Abbas, khalifah sesudahnya pada umumnya lemah dan tidak bisa mengendalikan kehendak para sultan dan para pengawal. Akhirnya, Al-Muta’adid (870-892 M) memindahkan kembali ibu kota Negara Samara ke Baghdad. Khalifah terakhir Dinasti Bani Abbas adalah Al-Mu’tasim (1242-1258 M) pada zamannya Baghdad dihancurkan oleh Hulagu.
Sumber: Metodologi Studi Islam (Atang Abdul Karim dan Jaih Mubarok)
Copyright by: Toto Si Mandja