Kedudukan Tradisi dalam Islam

Coretan, Materi PAI

Belum lama ini saya mendampingi lebe (pengjulu desa) untuk menikahkan warga di suatu desa. Kebetulan saya sebagai santrinya, jadi saya ditunjuk beliau untuk menjadi saksi dari salah satu mempelai. Saya sanggupi, mengingat memang masih kerabat. Disuatu jeda menunggu kesiapan mempelai, tiba-tiba mempelai lelaki membisikan sesuatu kepada penghulu. “Mempelainya dipisah ya pa, nanti kalau sudah sah, baru mempelai wanitanya keluar”, begitu kira-kira percakapan diantara keduanya. Penghulu pun mengiyakan.

Dari tindak tanduk dan bahasa tubuhnya memang terlihat seperti berbeda dengan mempelai yang lain. Terlebih ketika sudah selesai akad nikah. Biasanya di desa ada tradisi yang selalu dijaga dan dilestarikan. Misalnya, memecahkan kendi dan telur, saling suap, saling tarik menarik bakakak hayam (ayam panggang), jempol kaki mempelai lelaki ditempelkan ke kening mempelai wanita (sebagai bakti istri kepada suami), dan lain sebagainya.

Saya pun merasa terpancing untuk bertanya dan berdiskusi dengan orang-orang yang saya anggap senior. Ada 4 poin yang menjadi pembahasan.
1. Kedudukan tradisi dalam islam
2. Apakah tradisi bertentangan dengan islam
3. Bagaimana asal muasal tradisi tersebut
4. Apakah ada keterkaitan dengan islamisasi para penyebar islam di nusantara
5. Bagaimana cara menyikapi masalah ini

Maka hasil diskusi itu saya rangkum menjadi beberapa poin.
1. Kedudukan tradisi dalam islam adalah jaiz: العادة محكمة.

2. Selama itu tidak menyalahi akidah islam, apalagi hanya sekedar تفائل dan للبركة maka diperbolehkan.

3. Asal muasal tradisi ini telah ada jauh sebelum Islam diterima masyarakat Sunda, bahkan Kakek Siliwangi sempat menolak masuknya Islam ke pasundan karena merasa ajaran dan falsafah islam yg disebarkan orang Arab, telah jauh lebih dulu diamalkan oleh karuhun (leluhur) sunda. Awal mula islamisasi Nusantara dari tradisi sebelum islam oleh para pendahulu di kerajaan-kerajaan Islam, dan wali kemudian mamasukan unsur-unsur Islam dengan tidak meninggalkan makna simbol dalam budaya tiap daerah. Jadi kemudian ini menjadi tradisi bernafas islam hasil dari jerih payah penyebar islam ditanah nusantara. Jika ada orang yang menyalahkan, atau merasa sudah islami dengan keislamannya dan tidak mau menerima tradisi tersebut, kemungkinan pemikirannya terhadap islam terlalu sempit.

4. Kaitan tradisi dan islamisasi penyebar islam di nusantara sangat erat. Misalnya dalam setiap prosesi adat sunda, banyak petuah serta nasihat-nasihat yang sebenarnya berasal dari ajaran Islam. Setiap tradisi yang dilakukan pun banyak ayat-ayat Al-Quran dan doa yang disisipkan oleh para penyebar islam sesuai dengan metode yang relevan pada saat itu. Mengenal Allah dengan berbagai cara, tidak mesti harus langsung dengan bahasa arab dan kearab-araban. Ini uniknya para penyebar islam di Indonesia. Dengan bahasa apapun, mereka mampu meyakinkan bahwa Allah itu memang satu-satunya tempat kita bergantung. Maka muncullah jampi-jampi seolah mantra, padahal itu doa-doa yang dikemas kedalam bahasa lokal.

5. Lantas bagaimana cara menyikapi hal tersebut? Mestinya disampaikan kepada pengantin bahwa penolakannya harusnya jangan pada waktu sedang prosesi tetapi jauh-jauh sebelumnya. Jika tradisi ini tidak sesuai dengan islam, lalu apakah hajatan dengan mengundang tamu bercampur baurnya antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim satu Majlis itu Islami?

Maka bisa disimpulkan bahwa tradisi seperti ini diperbolehkan selama tidak menyalahi akidah islam. Islam di nusantara adalah islam yang melebur bersama budaya dan tradisi. Bukan berarti mencampuradukan, akan tetapi islam masuk melalui budaya dan lebih bisa diterima. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah islam baku dengan Quran dan Hadits. Sedangkan laluhur baku dengan berbagai tradisi yang ditinggalkan. Sebagai muslim kita tidak boleh menyalahi Quran dan Hadits. Demikian juga kita sebagai keturunan leluhur, jangan sampai melukai dan mencederai tradisi yang sudah diislamisasikan oleh karuhun (leluhur).

Copyright by: Toto Si Mandja
Rate this article!
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.