Kiat-kiat Menghafalkan Al-Qur’an

Artikel, Tips
Toto Si Mandja – Kiat-kiat Menghafalkan Al-Qur’an
Ada banyak keutamaan menghafal Al-Qur’an. Penghafalan Al-Qur’an butuh proses dan komitmen tinggi. Al-Qur’an mudah dibaca dan dihafal, itu adalah garansi dari Allah SWT sehingga tak ada alasan seseorang untuk mangkir dan berpaling dari belajar membaca Al-Qur’an. Terlebih berdalih susah dan tidak mau menghafalkannya. “Dan sesungguhnya Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).
Mari kita kalkulasikan bersama. Jika Anda menghafal satu hari satu ayat secara konsisten, maka Anda akan bisa rampung menghafalnya selama 17 tahun, 7 bulan dan sembilan hari. Ini bila dengan asumsi jumlah ayat mengikuti pendapat mayoritas ulama Makkah, yaitu lebih dari 6.220 ayat. Perinciannya sebagai berikut, 17×360 hari = 6120 hari. Jumlah itu ditambah 7 bulan (210 hari) 9 hari. Totalnya 6.339 hari. Jika dua haru dua ayat, maka hafalan tersebut akan rampung selama 8 tahun 9 bulan 18 hari. Jika proses itu dijalani, tak akan teraasa.
Ketahuilah, para penghafal Al-Qur’an mengemban misi dan tugas yang mulia. Mereka akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat kelak. Secara tegas, Allah memuliakan para hafiz itu melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Penghafal kitab suci itu, seperti dinukilkan oleh Imam Tirmidzi dalam riwayatnya, akan berhias dengan mahkota kemuliaan. Ini karena Sang Khaliq memberikan keridhaan pada yang bersangkutan. Kebaikannya pun akan bertambah, tiap kali melantunkan satu ayat.
Para penghafal Al-Qur’an, seperti ditegaskan pula di hadist riwayat Ahmad, adalah ‘keluarga’ Allah di muka bumi. Keutamaan inilah yang mendorong Rasul memuliakan para sahabat penghafal Al-Qur’an. Ketika perang Uhud meletus, tak sedikit para sahabat yang gugur dalam pertarungan itu. Rasul selalu mendahulukan para penghafal Al-Qur’an untuk dimakamkan terlebih dahulu. “Manakah diantara mereka yang hafal Al-Qur’an?” demikian jawaban Rasul atas pertanyaan sahabat.
Semasa Rasul hidup, gairah menghafal Al-Qur’an dikalangan para sahabat sangatlah tinggi. Tak terkecuali para pemuda. Ada sederet nama kawula muda ketika itu yang menghafal Al-Qur’an, seperti Amar bin Salamah, Al-Barra’ bin ‘Azib dan Zaid bin Haritsah. Sahabat Zaid bin Harits yang berusia belia saat itu bahkan masuk kedalam daftar sahabat pencatat wahyu. Pada masa Khalifah Abu Bakar, Zaid dilibatkan pula dalam kodifikasi Al-Qur’an.
Akan tetapi, terdapat poin penting yang mesti ditekankan oleh para penghafal Al-Qur’an. Mereka mesti mengikuti sejumlah aturan dan etika agar proses menghafal mendapatkan keberkahan dari-Nya. Syekh Qathan Birqadar memaparkan sejumlah fondasi dasar yang harus diperkokoh oleh para penghafal Al-Qur’an.
paling utama ialah meluruskan niat. Jadikan motivasi satu-satunya menghafal Al-Qur’an, yakni mendapat keridhaan-Nya. Bukan berorientasi pada ketenaran dan popularitas. “Niat duniawi tak akan berbuah manis“.
Syekh Qahthan mengingatkan agar menyempurnakan proyek hafalan itu dengan praktik dan pengalaman Al-Qur’an. Amalkan ajaran, nilai, dan etika yang terkandung didalamnya. Jadilah hafiz yang pionir dan selalu terdepan soal akhlak dan moralitas. Tetap tawadhu dan tidak sombong dihadapan orang lain. Ingatlah, Al-Qur’an akan menjadi saksi kita kelak di akhirat. Rasul bersabda, “Al-Qur’an adalah saksi atas kebaikan atau keburukanmu“.
Sumber: Koran Republika
Copyright by: Toto Si Mandja
Rate this article!
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.