Kombo Derita

Sabtu siang, setelah mencuci pakaian, aku segera bergegas untuk pulang ke Subang. Beberapa hari menghirup udara Kota Udang, menyelesaikan tugas yang sempat terbengkalai.

Berbekal bahan bakar super penuh. Tanpa khawatir, aku laju kuda besi kesayangan dengan kecematan 90 km/jam. Biasanya tak ada masalah, kecuali ban bocor. Siapa sangka, 25 KM menuju rumah, tiba-tiba kuda besiku terseok-seok. Hampir saja tersungkur dan mencium aspal.

Gruuung! Gas ku tarik, tapi kuda besi tak mau berjalan. Sial! Ternyata vanbeltnya putus. Seketika bau hangus menyengat. Ku amati sekitar jalan, ruas jalan memanjang tanpa ada rumah satu pun.

Sejenak aku merenung.

“Siapa yang rumahnya sekitaran sini yah”, gumamku dalam hati.

Kucari kontak semua teman-teman yang berada di sekitar lokasi. Satu, dua, tiga, empat, hingga lebih dari lima teman aku telpon untuk memastikan dia bisa membantu.

Akhirnya ada satu teman yang bisa menolong. Tak lama dia datang dan langsung mendorong motorku menuju bengkel. Sepuluh menit berlalu, tibalah kita di bengkel tujuan.

“Tunggu sebentar ya, aku mau ke ATM dulu”, ucapku sambil meminjam motornya.

Antrian di ATM sangat panjang. Waktu yang terbuang lumayan banyak untuk mengambil uang saja. Ku keluarkan kartu ATM yang terselip di dompet.

“Meskipun tidak ada (uang) cash sama sekali, minimal ada cadangan di ATM lah”, ucapku dalam hati.

“KARTU ATM ANDA TIDAK BISA DIGUNAKAN”, teks pemberitahuan dalam mesin ATM.

“Sial! kenapa ini kartu”, umpatku kesal.

Kuperhatikan detil kartu ATM, hingga kutemukan kejanggalannya.

“mmm… Pantes aja enggak bisa dipakai, kartu ATMnya Expired.” ucapku.

Hari ini benar-benar sial. Vanbelt motor putus, ditambah kartu ATM expired. Lengkap sudah penderitaanku. Kombo Derita.