Makalah Analisis Pengembangan Kurikulum PAI SMA Tentang Pengembangan Evaluasi Pembelajaran PAI

Makalah
Toto Si Mandja – Makalah Analisis Pengembangan Kurikulum PAI SMA Tentang Pengembangan Evaluasi Pembelajaran PAI

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Evaluasi Pembelajaran PAI
Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa inggris evaluation; dalam bahasa arab: al-Taqdiir; dalam bahasa indonesianya berarti penilaian. Maka istilah evaluasi itu menunjuk kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.[1]
Pembelajaran PAI adalah proses kegiatan yang terbimbing untuk mencapai tujuan dalam rangka perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan ajaran Islam. Maka dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya evaluasi pembelajaran PAI adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) dari sesuatu proses kegiatan untuk mencapai tujuan dalam rangka tingkah lau siswa sesuai dengan ajaran Islam.
B.     Landasan Pengembangan Pembelajaran PAI
Pengembangan kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yudiris, psikologis dan konseptual sebaagai berikut:
            1.      Landasar Filosofis
a.       Filosofis Pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.
b.      Filosofis pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat.
            2.      Landasar Yudiris
a.       RPJMM 2010-2014 Sektor Pendidikan, tentang Perubahan Metodologi Pembelajaran dan Penataan Kurikulum
b.      PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
c.       INPRES Nomor 1 Tahun 2010, tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.[2]

            3.      Landasan Psikologis
Pengembangan kurikulum dipengaruhi oleh kondisi psikologis individual yang terlibat didalamnya, karena apa yang ingin disampaikan menuntut peserta didik untuk melakukan perbuatan belajar atau sering disebut proses belajar.[3]
            4.      Landasan Konseptual
a.       Relevansi pendidikan (link and match)
b.      Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter
c.       Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning)
d.      Pembelajaran aktif (student active learning)
e.       Penilaian yang valid, utuh dan menyeluruh.[4]
C.    Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran PAI
      1.      Prinsip relevansi, ada dua macam relevansi yaitu relevan ke luar dan relevan ke dalam. Relevansi ke luar maksudnya tujuan, isi dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutanm kebutuhan dan perkembangan masyarakat.
     2.      Prinsip fleksibelitas, kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel. Kurikulummempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, disini dan ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar  belakang dan kemampuan yang berbeda. 
    3.      Prinsip kontinuitas, yaitu kesinambungan. Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara kesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti.
4.      Prinsip praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi.[5]
D.    Karakteristik Instrumen Evaluasi Pembelajaran PAI
Evaluasi sangat berguna untuk meningkatkan kualitas system pembelajaran. Kedudukan dan pentingnya evaluasi dalam pembelajaran, baik dilijat dari tujuan dan fungsi maupun system pembelajaran itu sendiri. Evaluasi tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran, karena keefektifan pembelajaran hanya dapat diketahui melalui evaluasi. Dengan kata lain, melalui evaluasi semua komponen pembelajaran data diketahui aakah dapat berfungsi sebagaimana mestinya atau tidak. Guru dapat mengetahui tingkat kemampuan peserta didik, baik secara kelompok maupun perseorangan. Guru juga dapat melihat berbagai perkembangan hasil belajar peserta didik, baik yang menyangkut dominan kognitif, afektif maupun psikomotor. Pada akhirnya, guru akan memperoleh gambaran tentang keefektifan proses pembelajaran.[6]
Adapun karakteristik intrumen evaluasi yang baik adalah, valid, reliable, relevan, representatif, praktis, deskriminatif, spesifik, dan proporsional.
1.      Valid artinya suatu instrument dapat dikatakan valid jika betul-betul mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. Misalnya alat ukur tersebut harus betul-betul dan hanya mengukur kemampuan peserta didik dalam pempelajari PAI, tidak boleh dicampuradukkan dengan materi pelajaran lain.
2.      Reliable, artinya suatu instrument dapat dikatakan reliable atau handal jika ia mempunyai hasil yang taat asas (consistent). Misalnya, seorang guru mengembangkan instrument tes diberikan kepada sekelompok peserta didik saat ini, kemudian diberikan kepada sekelompok peserta didik yang sama pada waktu yang berbeda, dan ternyata hasilnya sama atau mendekati sama, maka dapat dikatakan instrument tersebut mempunyai tingkat reliabilitas yang tinggi.[7]
3.      Relevan, artinya instrument yang digunakan harus sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indicator yang telah ditetapkan. dalam konteks penilaian hasil belajar, maka instrument harus disesuaikan dengan domain hasil belajar, seperti domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Jangan sampai ingin mengukur domain kognitif menggunakan instrument non-tes. Hal ini tentu tidak relevan.[8]
4.      Representative, artinya materi instrument harus betul-betul mewakili seluruh materi yang disampaikan. Hal ini dapat dilakukan bila penyusun instrument menggunakan silabus sebagai acuan pemilihan materi tes. Guru juga harus memperhatikan proses seleksi materi, mana yang bersifat aplikatif dan mana yang tidak, mana yang oenting dan mana yang tidak.
5.      Praktis, artinya mudah digunakan. Jika instrument itu sudah memenuhi syarat tetapi sukar digunakan, berarti tidak praktis. Kepraktisan ini bukan hanya dilihat dari teknik penyusunan instrument, tetapi juga bagi orang lain yang ingin menggunakan instrument tersebut.
6.      Deskriminatif, artinya instrument itu harus disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menunjukkan perbedaan yang sekecil apapun. Semakin baik suatu instrument, maka semakin mampu instrument tersebut menunjukkan perbedaan secara teliti. Untuk mengetahui apakah instrument cukup deskriminatif atau tidak, biaanya dilakukan uji daya pembeda instrument tersebut.
7.      Spesifik, artinya suatu instrument disusun dan digunakan khusus untuk objek yang dievaluasi. Jika instrument tersebut menggunakan tes, maka jawaban tes jangan menimbulkan ambivalensi atau spekulasi.
8.      Proporsional, artinya suatu instrument harus memiliki tingkat kesulitan yang proposional antara sulit, sedang, dan mudah. Begitu jika ketika menentukan jenis instrument, baik tes maupun non-tes.[9]
E.     Model-model Evaluasi Pembelajaran PAI
Studi tentang evaluasi, banyak sekali dijumpai model-model evaluasi dengan format atau sistematika yang berbeda, sekalipun dalam beberapa model ada juga yang sama. Misalnya saja, Said Hamid Hasan (1988) mengelompokkan model evaluasi sebagai berikut:
    1.      Model evaluasi kuantitatif, yang meliputi: model Tyler, model teoretik Taylor dan Maguire, model pendekatan system Alkin, Model Counternance Stake, model CIPP, dan model ekenomi mikro.
      2.      Model evaluasi kualitatif, yang meliputi: model studi kasus, model iluminatif dan model responsive.[10]
     3.      Model ekonomi mikro, model ini pada dasarnya adalah model yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Sebagaimana kebanyakan model kuantitatif, model ekonomi mikro memiliki focus utama pada hasil (hasil dari pekerjaan, hasil belajar, dan hasil yang diperkirakan).[11]
Zainal Arifin memaparkan beberapa model-model evaluasi diantaranya adalah:
     1.      Model Tyler
Nama model ini diambil dari nama pengembangnya yaitu Tyler. Tyler banyak mengemukakan ide dan gagasannya tentang evaluasi. Model ini dibangun atas dua dasar pemikiran. Pertama, evaluasi ditujukan pada tingkah aku peserta didik. Kedua, evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan kegiatan pembelajaran (hasil).[12]
      2.      Model yang berorientasi pada tujuan
Kita mengenal adanya tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus. Model evaluasi ini menggunakan kedua tujuan tersebut sebagai criteria untuk menentukan keberhasilan. Evaluasi diartikan sebagai proses pengukuran untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai. Model ini dianggap lebih praktis karena menentukan hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur.
      3.      Model Pengukuran
Model pengukuran banyak dikemukakan oleh pemikiran-pemikiran dari R. Thorndike dan R. L. Ebel. Sesuai dengan namanya, model ini sangat menitikberatkan pada kegiatan pengukuran. Pengukuran digunakan untuk menentikan luantitas suatu sifat (attribute) tertentu yang dimiliki oleh objek, orang maupun peristiwa, dalam bentuk unit ukuran tertentu.[13]
     4.      Model Kesesuaian (Ralph W. Tyler, John B. Carrol, and Lee J. Cronbach)
Menurut model ini evaluasi adalah suatu kegiatan untuk melihat kesesuaian antara tujuan dengan hasil belajar yang telah dicapai. Hasil evaluasi digunakan untuk menyempurnakan system bimbingan peserta didik dan untuk memberikan informasi kepada puhak-pihak yang memerlukan. Objek evaluasi ini adalah tingkah laku siswa, yaitu tingkah laku yang diinginkan pada akhir kegiatan pembelajaran, baik menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
    5.      Educational system evaluation model (Daniel L. Stufflebeam, Michael Scriven, Robert E. Stake dan Malcolm M. Provus)
Menurut model ini evaluasi berarti membandingkan performance dari berbagai dimensi (tidak hanya dimensi hasil saja) dengan sejumlah criterion, baik yang bersifat mutlak/intern maupun relatif/ekstern. [14]
      6.      Model Alkin
Model ini diambil dari nama pengembangnya, yaitu Marvin Alkin (1969). Menurut Alkin, evaluasi adalah suatu proses untuk meyakinkan keputusan, mengumpulkan informasi, memilih informasi yang tepat, dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif.
     7.      Model Brinkerhoff
Robert O. Brinkerhoff (1987) mengemukakan tiga jenis evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, yaitu:
a.       Fixed vs Emergent Evaluation Design
Desain evaluasi fixed (tetap) harus direncanakan dan disusun secara sistematik-terstruktur sebelum program dilaksanakan. Meskipun demikian, desain fixed dapat juga disesuaikan dengan kebutuhan yang sewaktu-waktu dapat berubah. Desain evaluasi ini dikembangkan berdasarkan tujuan program, kemudian disusun pertanyaan-pertanyaan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang diperoleh disumber-sumber tertentu.
b.      Formative vs Summative Evaluation
Istilah formatif dan sumatif pertama kali dipopulerkan oleh Michael Scriven. Untuk dapat memahami kedua jenis evaluasi ini dapat dilihat dari fungsinya. Evaluasi formatif berfungsi untuk memperbaiki kurikulum dan pembelajaran, sedangkan evaluasi sumatif berfungsi untuk melihat kemanfaatan kurikulum dan pembelajaran secara menyeluruh.
c.       Desain eksperimental dan jenis desain quasi eksperimental natural inquiry
Desain eksperimental banyak menggunakan pendekatan kuantitatif, random sampling, memberikan perlakuan, dan mengukur dampak. Tujuannya adalah untuk menilai manfaat hasil percobaan program pembelajaran.[15]
      8.      Illuminative Model (Malcolm Parlett dan Hamilton)
Model ini lebih menekankan pada evaluasi kualitatif-terbuka. Kegiatan evaluasi dihubungkan dengan learning milieu, dalam konteks sekolah sebagai lingkungan material dan psikososial, dimana guru dan peserta didik dapat berinteraksi. Tujuan evaluasi ini adalah untuk mempelajari secara cermat dan hati-hati terhadap pelaksanaan system pembelajaran, factor-faktor yang memengaruhinya, kelebihan dan kekurangan system, dan pengaruhh system terhadap pengalaman belajar peserta didik.
      9.      Model Responsif
Sebagaimana model illuminatif, model ini juga menekankan pada pendekatan kualitatif-naturalistik. Evaluasi tidak diartikan sebagai pengukuran melainkan pemberian makna atau melukiskan sebuah realitas dari berbagai perspektif prang-orang yang terlibat, berminat dan berkepentingan dengan program pembelajaran. Tujuan evaluasi ini adalah untuk memahami semua komponen program pembelajaran melalui berbagai sudut pandang yang berbeda.[16]
F.     Langkah-langkah Pengembangan Evaluasi Pembelajaran PAI
Dalam literatur evaluasi banyak dijumpai prosedur evaluasi sesuai dengan pandangannya masing-masing. Namun, sekalipun ada perbedaan langkah, bukanlah sesuatu yang prinsip. Karena prosedur intinya hampir sama.[17]
1.      Perencanaan Evaluasi
Dalam melaksanakan suatu kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini dimaksudkan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Namun, banyak juga orang melaksanakan suatu kegiatan tanpa perencanaa yang jelas sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Oleh sebab itu, seorang evaluator harus dapat membuat perencanaan evaluasi dengan baik.
Melalui perencanaan evaluasi yang matang, kita dapat menetapkan tujuan-tujuan tingkah laku atau indikator yang akan dicapai, dapat mempersiapkan pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dapat menggunakan waktu yang tepat.
2.      Pelaksanaan Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi artinya bagaimana cara melaksanakan suatu evaluasi sesuai dengan perencanaan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi sangat bergantung pada jenis evaluasi yang digunakan. Jenis evaluasi yang digunakan akan memengaruhi seorang evalutor dalam menentukan prosedur, metode, instrumen, waktu pelaksanaan, sumber data dan sebagainya. Dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar, guru dapat menggunakan tes (tes tertulis, tes lisan dan tes perbuatan) maupun nontes (angket, observasi, wawancara, studi dokumentasi, skala sikap dan sebagainya). Pelaksanaan tes maupun no-ntes tersebut akan berbeda satu dengan lainnya, sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing-masing.
Dalam pelaksanaan tes lisan, misalnya guru harus memperhatikan tempat tes diadakan. Tempat ini harus terang, enak dipandang dan tidak menyeramkan. Sehingga peserta didik tidak takut dan gugup. Guru harus dapat menciptakan suasana yang kondusif dan komunikatif.
Dalam pelaksanaan tes tertulis, guru juga harus memperhatikan ruangan atau tempat tes itu dilaksanakan. Ruangan dan tempat duduk peserta didik harus diatur sedemikian rupa sehingga gangguan suara dari luar dapat dihindari dan suasana tes dapat berjalan lebih tertib. Guru atau panitia ujian harus menyusun tata tertib pelaksanaan tes, baik yang menyangkut masalah waktu, tempat duduk, pegnawas, maupun jenis bidang studi yang akan diujikan.
Pelaksanaan nontes dimaksudkan untuk mengetahui perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, pendapat peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran, kesulitan belajar, minat belajar, motivasi belajar dan mengajar, dan sebagainya. Instrumen yang digunakan antara lain angket, pedoman observasi, pedoman wawancara, skala sikap, skala minat, daftar cek, rating scale, anecdotal records, sosiometri, home visit dan sebagainya.
3.      Monitoring Pelaksanaan Evaluasi
Langkah ini dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan evaluasi pembelajaran telah sesuai dengan perencanaan evaluasi yang telah ditetapkan atau belum. Tujuannya adalah untuk mencegah hal-hal yang negatif dan meningkatkan efisiensi pelaksanaan evaluasi. Monitoring mempunyai dua fungsi pokok. Pertama, untuk melihat relevansi pelaksanaan evaluasi dengan perencanaan evaluasi. Kedua, untuk melihat hal-hal apa yang terjadi selama pelaksanaan evaluasi.
Untuk melaksanakan monitoring, evaluator dapat menggunakan beberapa teknik, seperti observasi partisipatif, wawancara (bebas atau terstruktur), atau studi dokumentasi. Untuk itu, evaluator harus membuat perencanaan monitoring sehingga dapat dirumuskan tujuan, sasaran, data yang diperlukan, alat yang digunakan dan pedoman analisis hasil monitoring. Data yang diperoleh dari hasil monitoring harus cepat dianalisis sehingga dapat memberikan makna bagi pelaksanaan evaluasi. Hasil analisis monitoring ini dapat dijadikan landasan dan acuan untuk memperbaiki pelaksanaan evaluasi selanjutnya dengan harapan akan lebih baik daripada sebelumnya.
4.      Pengolahan Data
Mengolah data berarti mengubah wujud data yang sudah dikkumpulkan menjadi sebuah sajian data yang menarik dan bermakna. Data hasil evaluasi, ada yang berbentuk kualitatif, ada juga yang berbentuk kuantitatif. Data kualitatif tentu diolah dan dianalisis secara kkualitatif, sedangkan data kuantitatif diolah dan dianalisis dengan bantuan statistika, baik statistika deskriptif maupun statistika inferensial. Misalnya, kita memperoleh data tentang nilai prestasi belajar dari sekelompok peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Nilai-nilai tersebut kita susun dalam tabel distribusi frekuensi, kemudian kita buat tabel atau daftar, diagram atau gambar sehingga data nilai tersebut menarik untuk disajikan dan dapat dimaknai.
5.      Pelaporan Hasil Evaluasi
Semua hasil evaluasi harus dilaporkan kepada berbagai pihak yang berkepentingan, seperti orang tua/wali, kepala sekolah, pengawas, pemerintah, mitra sekolah dan peserta didik itu sendiri sebagai bentuk akuntabilitas publik. Hal ini dimaksudkan agar proses pembelajaran, termasuk proses dan hasil belajar yang dicapai peserta didik serta perkembangannya dapat diketahui oleh berbagai pihak, sehingga orang tua/wali (misalnya) dapat menentukan sikap yang objektif dan mengambil langkah-langkah yang pasti sebagai tindak lanjut dari laporan tersebut.
Laporan kemajuan belajar peserta didik merupakan sarana komunikasi antara sekolah, peserta didik dan orang tua dalam upaya mengembangkan dan menjaga hubungan kerja sama yang harmonis di antara mereka.
6.      Penggunaan Hasil Evaluasi

Tahap akhir dari prosedur evaluasi adalah penggunaan atau pemanfaatan hasil evaluasi. Salah satu penggunaan hasil evaluasi adalah laporan. Laporan dimaksudkan untuk memberikan feedback kepada semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk membantu pemahaman peserta didik menjadi lebih baik, menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik kepada orang tua, dan membantu guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran.



[1]Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 2009 ), h. 1.
[2]E. Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013 (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), h. 64.
[3]Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum (Bandung: PT Rremaja Rosdakarya, 2012), h. 56.
[4]65
[5]Nana Syodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 151.
[6]Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), h. 69.
[7]Ibid., h. 69.
[8]Ibid.
[9]Ibid., h. 70.
[10]Ibid., h. 73.
[11]Said Hamid Hasan, Evaluasi kurikulum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h. 223.
[12]Zainal Arifin, Ibid., h. 74.
[13]Ibid., h. 75.
[14]Ibid., h. 76.
[15]Ibid., h. 82.
[16]Ibid., h. 83.
[17]Anas Sudijono, Op. Cit., h. 88.
Copyright by: Toto Si Mandja
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.