Makalah Psikologi Agama Tentang Agama dan Pengaruhnya dalam Kehidupan

Makalah

Toto Si Mandja – Makalah Psikologi Agama Tentang Agama dan Pengaruhnya dalam Kehidupan

BAB II
PEMBAHASAN
      Jasa terbesar agama ialah mengerahkan perhatian umat manusia kepada masalah mahapenting yang selalu menggoda, yaitu masalah “arti dan makna”. Manusia membutuhkan bukan saja pengaturan emosi, tetapi juga kepastian kognitif tentang perkara-perkara yang tidak dapat dielekkan dari pikirannya: kesusilaan,disiplin, penderitaan, kematian, nasib terakhir. Terhadap persoalan tersebut agama menunjukkan jalan dan arah kemana manusia dapat mencari jawabannya. Agama telah meningkatkan kesadaran yang hidup dalam diri manusia akan kondisi eksistensialnya yang berupa: ketidak pastian dan ketidakmampuan untuk menjawab problem hidup yang berat itu. [1]
Nilai-nilai ekonomi bukanlah merupakan nilai tertinggi dan terakhir, maka jika perlu dapat dikorbankan untuk mencapai nilai yang lebih tinggi yang ia inginkan. Sebagaimana halnya tentang larangan yang diajarkan agama tertentu berpengaruh atas proses sosial atau jalannya kehidupan masyarakat, demikian pula ajaran moral yang bersifat deterministic berpengaruh pada cara berpikir dan pola tingkah laku penganut yang bersangkutan. Determinisme moral mengajarkan bahwa terdapat mekanisme kausal dari dunia supra-empiris atas dunia empiris. Apa yang terjadi di dunia kelihatan ini baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan dianggap sebagai jawaban (balasan) dari yang “berkuasa” atas perbuatan manusia itu sendiri.
Para ahli kebudayaan yang telah mengadakan pengamatan mengenai aneka budaya berbagai basngsa sampai pada kesimpulan, bahwa agama merupakan unsure inti yang paling mendasar dari kebudayaan manusia, baik dari segi positif maupun segi negative. Masyarakat adalah suatu fenomena sosial yang terkena arus perubahan terus menerus yang dapat dibagi dalam dua kategori: kekuatan batin dan kekuatan lahir.
A.    Agama dalam Kehidupan Individu
Émile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya.[2]
Agama dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu sistem nilai yang memuat norma-norma tertentu. Secara umum norma-noirma tersebut menjadi kerangka acuan dalam bersikap dan bertingkah laku agar sejalan dengan keyakinan agama yang dianutnya.[3]
Suatu kelengkapan yang penting bagi terlaksananya peranan agama sebagai pemersatu adalah sumbangan fungsionalnya terhadap (proses) sosialisasi dari masing-masing anggota masyarakat. Setiap individu di saat dia tumbuh menjadi dewasa memerlukan sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum (untuk mengarahkan) aktivitasnya dalam masyarakat dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya.[4]
Sebagai sistem nilai agama memiliki arti yang khusus dalam kehidupan. Dilihat dari fungsi dan peran agama dalam memberi pengaruhnya terhadap individu, baik dalam bentuk sistem nilai, motivasi maupun pedoman hidup, maka pengaruh yang paling penting adalah sebagai pembentuk kata hati. Kata hati menurut Erich Fromm adalah panggilan kembali manusia kepada dirinya. Erich Fromm membagi kata hati menjadi: kata hati otoritarian dan kata hati humanistik. Kata hati otoritarian dibentuk oleh pengaruh luar, sedangkan kata hati humanistik bersumber dari dalam diri manusia. Kata hati humanistik adalah pernyataan kepentingan diri dan integrasi manusia, sementara kata hati otoritarian berkaitan dengan kepatuhan, pengorbanan diri dan tugas manusia atau penyesuaian sosialnya.
Menurut MC Guire, diri manusia memiliki bentuk sistem nilai tertentu. Sistem nilai ini merupakan sesuatu nilai yang dianggap bermakna bagi dirinya. Sistem ini dibentuk melalui belajar dan proses sosialisasi. Perangkat sistem nilai ini dipengaruhi oleh keluarga, teman, institusi pendidikan dan masyarakat luas.
Nilai adalah dorongan dalam hidup, yang memberi makna dan pengabsahan pada tindakan seseorang. Karena itu nilai menjadi penting dalam kehidupan seseorang, sehingga tidak jjarang pada tingkat tertentu orang siap untuk mengorbankan hidup mereka demi mempertahankan nilai.[5]
Nilai mempunyai dua segi, yaitu segi intelektual dan segi emosional. Dan gabungan dari dua aspek ini menentukan sesuatu nilai beserta fungsinya dalam kehidupan.
Dilihat dari fungsi dan peran agama dalam memberi pemngaruhnya terhadap individu, baik dalam bentuk sistem nilai, motivasi maupun pedoman hidup, maka pengaruh yang paling penting adalah sebagai pembentuk kata hati.
Pada diri manusia telah ada sejumlah potensi untuk member arah dalam kehidupan manusia. Potensi tersebut adalah: 1) naluriah, 2) indrawi, 3) nalar dan 4) agama. Melalui pendekatan ini, maka agama sudah menjadi fitrah yang dibawa sejak lahir. Pengaruh lingkungan terhadap seseorang adalah member bimbingan kepada potensi yang dimilikinya itu. Dengan demikian itu, jika potensi fitrah itu dapat dikembangkan sejalan dengan pengaruh lingkungan maka akan menjadi keselarasan. Sebaliknya jika potensi itu dikembangkan dalam kondisi yang dipertentangkan oleh kondisi lingkungan, maka akan terjadi ketidakseimbangan pada diri seseorang.
Beradasarkan pendekatan ini, maka pengaruh agama dalam kehidupan individu adalah memberi  kemantapan batin, rasa bahagia, rasa terlindung, rasa sukses dan rasa puas. Perasaan positif ini lebih lanjut akan menjadi pendorong untuk berbuat. Agama dalam kehidupan individu selain menjadi motivasi dan nilai etik juga merupakan harapan.
Agama berpengaruh sebagai motivasi dalam mendorong individu untuk melakukan suatu aktifitas, karena perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang keyakinan agama  dinilai mempunyai unsure kesucian, serta ketaatan. Keterkaitan ini akan member pengaruh diri seseorang untuk berbuat sesuatu. Sedangkan agama sebagai nilai etik karena dalam melakukan sesuatu tindakan seseorang akan terkait kepada ketentuan antara mana yang boleh dan mana yang tidak boleh menurut agama yang dianutnya.
B.     Agama dalam Kehipan Masyarakat
Masyarakat adalah gabungan dari kelompok individu yang terbentuk berdasarkan tatanan sosial tertentu. Dalam kepuasan ilmu-ilmu sosial dikenal tiga bentuk masyarakat, yaitu: 1) masyrakat homogeny, 2) masyarakat majemuk, 3) masyarakat heterogen.
Nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat menempatkan focus utamanya pada pengintegrasian tingkah laku perorangan dan pembentukan cita pribadinya (Elizabeth Nottigham: 58). Elizabeth berpendapat, bahwa walaupun tidak sekental masyarakat tipe pertama, maka pada masyarakat tipe kedua ini agama ternyata masih difungsikan dalam kehidupan masyarakat. Namun terlihat ada kecenderungan peran agama bergeser kepembentukan sikap individu.  
Masyarakat mempunyai kebutuhan-kebutuhan tertentu untuk kelangsungan hidup dan pemeliharaannya sampai batas minimal, dan agama juga berfungsi sebagai memenuhi sebagian antara kebutuhan- kebutuhan.
Masalah agama takkan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, karena agama itu sendiri diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam prakteknya fungsi agama dalam masyarakat antara lain:
1.      Berfungsi Edukatif
Para penganut agama berpendapat bahwa ajaran agama yang mereka anut memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi. Ajaran agama secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua unsure seruhan dan larangan ini mempeunyai latar belakang mengarahkan bimbingan agar pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan baik menurut ajaran agama masing-masing.
2.      Berfungsi Penyelamat
Dimanapun manusia berada dia selalu menginginkan dirinya selamat. Keselamatan yang meliputi bidang yang luas adalah keselamatan yang diajarkan oleh agama. Keselamatan yang diberikan oleh agama kepada penganutnya adalah keselamatan yang meliputi dua alam yaitu: dunia dan akhirat. Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan para penganutnya melalui: pengenalan kepada masalah sacral, berupa keimanan kepada Tuhan.
3.      Berfungsi sebagai Pendamaian
Melalui agama aseseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntunan agama. Rasa berdosa dan rasa bersalah akan segera menjadi hilang dari batinnya adalah apabila seseorang pelanggar telah menebus dosanya melalui: tobat, pensucian atau penebusan dosa.
4.      Berfungsi sebagai social control
Para penganut agama sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya terikat batin kepada tuntutan ajaran tersebut, baik secara pribadi maupun secara kelompok. Ajaran agama oleh penganutnya dianggap sebagai norma, sehingga dalam hal ini agama dapat berfungsi sebagai pengawasan sosial secara individu maupun kelompok, karena:
a.       Agama secara instansi merupakan norma bagi pengikutnya.
b.      Agama secara dogmaris (ajaran) mempunyai fungsi kritis yang bersifat profetis (wahyu, kenabian).
5.      Berfungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas
Para penganut agama yang sama secara psikologis akan merasa memiliki kesamaan dalam satu kesatuan: iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini akan membeina rasa solidaritas dalam kelompok maupun perorangan, bahkan kadang-kadang dapat membina rasa persaudaraan yang kokoh. Pada beberapa agama rasa persaudaraan itu bahkan dapat mengalakan rasa kebangsaan.
6.      Berfungsi Transformatif
Ajaran agama dapat mengubah kehidupan kepribadian seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Kehidupan baru diterimanya berdasarkan ajaran agama yang dipeluknya itu kadangkala mampu mengubah kesetiaannya kepada adat atau norma kehidupan yang dianutnya sebelum itu.
7.      Berfungsi Kreatif
Ajaran agama mendorong dan mengajak para penganutnya untuk bekerja produktif bukan saja untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Penganut agama bukan saja disuruh bekerja secara rutin dalam pola hidup yang sama, akan tetapi juga dituntut untuk melakukan inovasi dan penemuan baru.
8.      Berfungsi Sublimatif
Ajaran agama mengkuduskan segala usaha manusia, bukan saja yang bersifat agama ukhrawi, melainkan juga yang bersifat duniawi. Segala usaha manusia selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama, bila dilakukan atas niat yang tulus, karena dan untuk Allah beribadah.
C.     Agama dan Pembangunan
Prof. Dr. Mukti Ali mengemukakan bahwa peranan agama dalam pembangunan adalah:
      1.      Sebagai ethos Pembangunan
Maksudnya adalah bahwa agama yang menjadi anutan seseorang atau masyarakat jika diyakini dan dihayati secara mendalam mampu memberikan suatu tatanan nilai moral dalam sikap.
Selanjutnya nilai moral tersebut akan memberikan garis-garis perpedoman tingkah laku seseorang dalam bertindak, sesuai dengan ajaran agamanya. Segala bentuk perbuatan yang dilarang oleh agama dijauhinya dan sebaliknya selalu giat dalam menerapkan perintah agama, baik dalam kehidupan pribadi maupun demi kepentingan orang banyak. Dari tingkah laku dan sikap yang demikian tercermin suatu pola tingkah laku yang etis. Penerapan agama lebih menjurus keperbuatan yang bernilai akhlak yang mulia dan bukan untuk kepentingan yang lain. Segala bentuk perbuatan individu maupun masyarakat selalu berada dalam suatu garis yang serasi dengan peraturan dan aturan agama dan akhirnya akan terbina suatu kebiasaan yang agamis.
      2.      Sebagai Motivasi
Ajaran agama yang sudah menjadi keyakinan mendalam akan mendorong seseorang atau kelompok untuk mengejar tingkat kehidupan yang lebih baik. Pengalaman ajaran agama tercermin dari pribadi yang berpartisipasi dalam peningkatan mutu kehidupan tanpa mengharapkan imbalan yang berlebihan. Keyakinan akan balasan Tuhan terhadap perbuatan baik tanpa mampu memberikan ganjaran batinm yang akan mempengaruhi seseorang untuk berbuat tanpa imbalan material. Balasan dari Tuhan berupa pahala bagi kehidupan hari akhirat lebih didambakan oleh penganut agama yang taat.
Peranan-peranan positif ini telah membuahkanhasil yang kongkret dalam pembangunan baik berupa sarana maupun prasarana yang dibutuhkan.
Sumbangan harta benda dan milik untuk kepentingan masyarakat yng berlandaskan ganjaran keagamaan telah banyak dinikmati dalam pembangunan, misalnya:
       1.      Hibbah dan wakaf tanah untuk pembangunan jalan, sarana ibadah ataupun lembaga pendidikan.    
      2.      Dana yang terpakai untuk pembangunan lembaga pendidikan dan rumah- rumah Ibadah, rumah sakit, panti asuhan dan sebagainya.
       3.      Pengerahan tenaga yang berkoordinasi oleh pemuka agama dalam membina kegotongroyongan.
Melalui motivasi keagamaan seseorang pendorong untuk berkorban baik dalam bentuk materi maupun tenaga atau pemikiran. Pengorbanan seperti ini merupakan asset yang potensial dalam pembangunan.
D.    Agama dan Spiritualisme
Spiritual, spiritualitas, dan spiritualisme menace kepada kosa kata latin spirit atau spiritus yang berarti napas. Adapun kerja spirare yang berarti untuk bernapas. Berangkat dari pengertian etimologis ini, maka untuk hidup adalah untuk bernapas. Dan memiliki napas artinya memiliki spirit. Spirit dapat juga diartikan kehidupan, nyawa, jiwa, dan napas.
Secara garis besarnya spiritualitas merupakan kehidupan rohani (spiritual) dan perwujudannya dalam cara berpikir, merasa, merasa, berdo’a, dan berkarya (Hasan Sadilly: 3279). Seperti dinyatakan Wlliam Irwin Thomson, bahkan spiritualitas bukan agama. Namun demikian ia tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai keagamaan. Maksudnya ada titik singgung antara spiritualitas dan agama.
Sebagai potensi yang memberikan dorongan bagi manusia untuk melakukan kebajikan. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila spiritualitas ini senantiasa diposisikan sebagai nilai utama dalam setiap ajaran agama.


[1] Hendropuspito, Sosiologi agama,  (Malang: kanisus, 1984) h. 35
[2]Rajab, Khairunnas, Psikologi Agama, (Yogyakarta : Aswaja presindo, 2012), h. 57
[3]Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), h. 317
[4]Elizabeth, Agama dan Masyarakat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h. 36
[5]Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h.227


Copyright by: Toto Si Mandja
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.