Makalah Psikologi Agama Tentang Gangguan Pada Perkembangan Jiwa Keagamaan

Makalah
Toto Si Mandja – Makalah Psikologi Agama Tentang Gangguan Pada Perkembangan Jiwa Keagamaan


BAB II
PEMBAHASAN
Berbagai pendekatan yang digunakan tersebut mengisyaratkan bahwa jiwa agama bukan merupakan aspek spikis bersifat instinktif, yaitu unsure bawaan yang siap pakai. Jiwa keagamaan juga mengalami proses perkembangan dalam mencapai tingkat kematangannya . dengan demikian jiwa keagamaan tidak luput dari berbagai ganguan yang dapat mempengaruhi perkembangannya. Pengaruh tersebut baik yang bersumber dari dalam diri seseorang maupun yang bersumber dari faktor luar.
      A.    Faktor Intern
Faktor-faktor intern yang berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan antara lain adalah faktor hereditas, tingkat usia, kepribadian dan kondisi kejiwaan seseorang. Jika keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan.[1]

1.      Faktor Hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan terbentuk dari unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, afektif dan konatif. Tetapi dalam penelitian terhadap janin terungkap bahwa makanan dan perasaan ibu berpengaruh terhadap kondisi janin yang dikandungnya. Rasul saw. Menyatakan bahwa daging dari makanan yang haram, maka nerakalah yang lebih berhak atasnya. Pernyataan ini setidaknya menunjukkan bahwa ada hubungan antara status hukum makanan (halal dan haram) dengan sikap.
Selain itu Rasul saw. Juga menganjurkan untuk memilih pasangan hidup yang baik dalam membina rumah tangga, sebab menurut beliau keturunan berpengaruh. (As-iSyaibany, 1979: 140). Benih berasal dari keturunan tercela dapat mempengaruhi sifat-sifat keturunan berikutnya. Karenaya menurut Rasul saw. Selanjutnya: “Hati-hatilah dengan Hadra Al-Diman yaitu wanita cantik dari lingkungan yang jelek.” (Sayid Mujtaba dan Musawi Lari, 1977: 93).
Perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan, menurut Sigmund Freud akan menimbulkan rasa bersalah (sense of guilt) dalam diri pelakunya. Bila pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan agama, maka pada diri pelakunya akan timbul rasa berdosa. Dan perasaan seperti ini barangkali yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan seseorang sebagai unsur hereditas. Sebab, dari berbagai kasus pelaku zina sebagian besar memiliki latar belakang keturunan dengan kasus serupa.
2.      Tingkat Usia      
Hubungan antara perkembangan usia dengan perkembangan jiwa keagamaan tampaknya tak dapat dihilangkan begitu saja. Bila konversi lebih dipengaruhi oleh sugesti, maka tentunya konversi akan lebih banyak terjadi pada anak-anak, mengingat di tingkat usia tersebut mereka lebih mudah menerima sugesti. Namun, kenyataannyahingga usia baya pun masih terjadi konversi agama.
Terlepas dari ada tidaknya hubungan konversi dengan tingkat usia seseorang, namun hubungan antara tingkat usia dengan perkembangan jiwa keagamaan barangkali tak dapat diabaikan begitu saja. Berbagai penelitian psikologi agama menunjukkan adanya hubungan tersebut, meskipun tingkat usia bukan merupakan satu-satunya faktor penentu dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang. Yang jelas, kenyataan ini dapat dilihat dari adanya perbedaan pemahanan agama pada tingkat usia yang berbeda.
3.      Kepribadian
Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dengan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk kepribadian (Arno F. Wittig, 1977:238). Adanya kedua unsur yang membentuk kepribadian itu menyebabkan munculnya konsep tipologi dan karakter. Tipologi lebih ditekankan kepada unsur bawaan, sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan.
Dilihat dari pandangan tipologis, kepribadian manusia tidak dapat diubah karena sudah terbentuk berdasarkan komposisi yang terdapat dalam tubuh (Crijns dan Reksosiswojo:234). Sebaliknya, dilihat dari pendekatan karalterologis, kepribadian manusia dapat diubah dan tergantung dari pengaruh lingkungan masing-masing.
Dari pendekatan tipologis maupun karakterologis, maka terlihat ada unsur-unsur yang bersifat tetap dan unsur-unsur yang dapat berubah membentuk struktur kepribadian manusia. Unsur-unsur yang bersifat tetap berasal dari unsur bawaan, sedangkan yang dapat berubah adalah karakter. Namun demikian, karakter pun menurut Erich Fromm relatif bersifat permanen.
Unsur pertama (bawaan) merupakan faktor intern yang memberi ciri khas pada diri seseorang. Dan perbedaan ini diperkirakan berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan.
4.      Kondisi Kejiwaan
Kondisi kejiwaan ini terkait dengan kepribadian sebagai faktor intern. Ada beberapa model pendekatan yang mengungkapkan hubungan ini. Model psikodinamik yang dikemukakan Sigmund Freud menunjukkan gangguan kejiwaan ditimbulkan oleh konflik yang tertekan di alam ketidaksadaran manusia. Konflik akan menjadi sumber gejala kejiwaan yang abnormal. Selanjutnyua, menurut pendekatan biomedis, fungsi tubuh yang dominan mempengaruhi kondisi jiwa seseorang. Penyakit ataupun faktor genetik atau kondisi sistem saraf diperkirakan menjadi sumber munculnya perilaku abnormal. Kemudian pendekatan eksistensial menekankan pada dominasi pengalaman kekinian manusia. Dengan demikian, sikap manusia ditentukan oleh stimulan (rangsangan) lingkungan yang dihadapinya saat itu.
     B.     Faktor Ekstern
Manusia sering disebut dengan homo religious (makhluk beragama). Pernyataan ini menggambarkan bahwa manusia memiliki potensi dasar yang dapat dikembangkan sebagai makhluk yang beragama. Jadi manusia dilengkapi potensi berupa kesiapan untuk menerima pengaruh luar sehingga dirinya dapat dibentuk menjadi makhluk yang memiliki rasa dan perilaku keagamaan. Faktor ekstern yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan dapat dilihat dari lingkungan dimana seseorang itu hidup. Umumnya lingkungan tersebut menjadi tiga, yaitu:[2]
1.      Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan suatu social yang paling sederhana dalam kehidupan manusia. Kehidupan keluarga menjadi fase sosialisasi awal bagi pembentukkan jiwa keagamaan anak.
Pengaruh kedua orang tua terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak dalam pandangan Islam sudah lama disadari. Oleh karena itu sebagai interfensi terhadap perkembangan jiwa keagamaan tersebut, kedua orang tua diberikan beban tanggung jawab. Ada semacam rangakian ketentuan yang dianjurkan kepada orang tua, yaitu mengadzannkan ke telinga bayi yang baru lahir, mengakikahkan, member nama yang baik, mengajarkan membaca Al-Qur’an, membiasakan shalat serta bimbingan lainnya yang sejalan dengan perintah agama. Keluarga dinilai sebagai faktor yang paling dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan.
2.      Lingkungan Institutional
Lingkungan institutional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa istitusi formal seperti sekolah ataupun yang non-formal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi. Sekolah sebagai istitusi pendidikan formal ikut member pengaruh dalam membantu perkembangan kepribadian anak. Menurut Singgih D.Gunarsa pengaruh itu dapat dibagi tiga kelompok, yaitu; kurikulum dan anak,I hubungan guru dan murid, dan hubungan antar anak.
Dilihat dari kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan, tampaknya ketiga kelompok tersebut ikut berpengaruh. Sebab pada prinsipnya perkembangan jiwa keagamaan tidak dapt dilepaskan dari upaya untuk membentuk kepribadian yang luhur.
3.      Lingkungan Msyarakat
Sepintas lingkungan masyarakat bukan merupakan lingkungan yang mengandung unsure tanggung jawab, melainkan hanya merupakan unsure pengaruh belaka, tetapi norma dan tata nilai yang ada terkadang lebih mengikat sifatnya. Bahkan terkadang pengaruhnya lebih besar dalam perkembangan jiwa keagamaan baik dalam bentuk positif maupun negative. Misalnya linngkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keagamaan anak,sebab kehidupan keagamaan. Keadaan seperti ini bagaimanapun akan berpengaruh dalam pembentukkan jiwa keagamaan warganya.
Sebaliknya dalam lingkungan masyarakat yang lebih cair atau bahkan cenderung sekuler, kondisi seperti itu jarang dijumpai. Kehidupan warganya lebih longsor, sehingga diperkirakan turut mempengaruhi kondisi kehidupan keagamaan warganya.
     C.    Fanatisme dan Ketaatan
Suatu tradisi keagamaan dapat menimbulkan dua sisi dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang, yaitu fanatisme dan ketaatan. Mengacu kepada pendapat Erich Fromm bahwa karakter terbina melalui asimilasi dan sosialisasi, maka tradisi keagamaan memenuhi kedua aspek tersebut.[3]
Suatu tradisi keagamaan membuka peluang bagi warganya untuk berhubungan dengan warga lainnya (sosialisasi). Selain itu juga terjadi hubungan dengan benda-benda yang mendukung berjalannya tradisi keagamaan tersebut (Asimilasi) seperti institusi keagamaan dan sejenisnya.

Dalam menyikapi tradisi keagamaan juga tidak jarang munculnya kecenderungan seperti itu. Jika kecenderungan taklid keagamaan tersebut dipengaruhi unsure emosional yang berlebihan, maka terbuka peluang bagi pembenaran spesifik. Kondisi ini akan menjurus kepada fanatisme . sifat fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan beragama. Sifat ini dibedakan dari ketaatan. Sebab ketaatan merupakan upaya untuk menampilkan arahan dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama.



[1] Jalaluddin, Psikologi Agama, Jkt: Raja Grafindo Persada, 1997. h.213.
[2] Ibid., h. 219.
[3] Ibid., h. 222
Copyright by: Toto Si Mandja
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.