Makalah Psikologi Agama Tentang Kematangan dan Kesadaran Beragama

Makalah

Toto Si Mandja – Makalah Psikologi Agama Tentang Kematangan dan Kesadaran Beragama

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kematangan dan Kesadaran Beragama
Manusia mengalami dua perkembangan, yaitu perkembangan jasmani dan perkembangan rohani. Perkembangan jasmani diukur berdasarkan umur kronologis. Puncak perkembangan jasmani yang dicapai manusia disebut kedewasaan. Sebaliknya, perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat kemampuan (abilitas). Pencapaian tingkat abilitas tertentu bagi perkembangan rohani disebut istilah kematangan (maturity).
Seorang anak yang normal, dalam usia tujuh tahun (jasmani) umumnya sudah matang untuk sekolah. Maksudnya di usia tersebut anak-anak yang normal sudah mampu mengikuti program sekolah. Di usia itu anak-anak sudah dapat menahan diri untuk mematuhi peraturan dan disiplin sekolah serta sudah memiliki kemampuan untuk dapat mengikuti pengajaran yang diberikan kepadanya. Anak-anak yang normal memiliki tingkat perkembangan yang sejajar antara jasmani dan rohaninya.
Tetapi dalam kenyataan sehari-hari tak jarang dijumpai ada anak-anak yang memiliki perkembangan jasmani dan rohani yang berbeda. Terkadang secara jasmani perkembangannya sudah mencapai tingkat usia kronologis tertentu, namun belum memiliki kematangan yang seimbang dengan tingkat usianya. Anak-anak seperti ini disebut dengan anak yang mengalami keterlambatan perkembangan rohani, yang kebanyakan disebabkan hambatan mental (mental handicaped). Sebaliknya ada anak-anak yang perkembangan rohaninya mendahului perkembangan jasmaninya. Anak-anak seperti ini dinamai anak yang mengalami percepatan kematangan, yang umumnya dikarenakan adanya kemampuan bakat tertentu yang istimewa (gifted children).
Seperti halnya dalam tingkat perkembangan yang dicapai di usia anak-anak, maka kedewasaan jasmani belum tentu berkembang setara dengan kematangan rohani. Secara normal, memang seorang yang sudah mencapai tingkat kedewasaan akan memiliki pula kematangan rohani seperti kematangan berpikir, kematangan kepribadian maupun kematangan emosi. Tetapi perimbangan antara kedewasaan jasmani dan kematangan rohani ini adakalanya tidak berjalan sejajar. Secara fisik (jasmani) seseorang mungkin sudah dewasa, tetapi secara rohani ia ternyata belum dewasa.
Keterlambatan pencapaian kematangan rohani ini menurut ahli psikologi pendidikan sebagai keterlambatan dalam perkembangan kepribadian. Faktor-faktor ini menurut Dr. Singgih D. Gunarsa dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: 1) faktor yang terdapat pada diri anak; dan 2)  faktor yang berasal dari lingkungan.
Adapun faktor intern anak itu yang dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah: (1) konstitusi tubuh; (2) struktur dan keadaan fisik; (3) koordinasi motorik; (4) kemampuan mental dan bakat khusus, intelegensi tinggi, hambatan mental, dan bakat khusus; (5) emosionalitasi. Semua faktor intern ini ikut mempengaruhi terlambat tidaknya perkembangan kepribadian seseorang.
Selanjutnya, yang termasuk pengaruh faktor lingkungan adalah: (1) keluarga; (2) sekolah. Selain itu, ada faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, yaitu kebudayaan tempat seseorang dibesarkan. Kebudaaan turut mempengaruhi pembentukan pola tingkah laku serta berperan dalam pembentukan kepribadian. Kebudayaan yang menekankan pada norma yang didasarkan kepada nilai-nilai luhur seperti kejujuran, loyalitas, kerja sama, bagaimanapun akan memberi pengaruh dalam membentuk pola dan sikap yang merupakan unsur dalam kepribadian seseorang. Demikian pula halnya dengan kematangan beragama.[1]
Allah swt berfirman dalam QS. Luqman: 13-15
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ.
وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ. وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ.
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Dalam perkembangan jiwa seseorang, pengalaman kehidupan beragama sedikit demi sedikit makin mantap sebagai suatu unit yang otonom dalam kepribadiannya. Unit ini merupakan suatu organisasi yang disebut ‘kesadaran beragama’ sebagai hasil peranan fungsi kejiwaan terutama motivasi, emosi dan inteligensi. Motivasi yang baik sebagai daya penggerak mengarahkan kehidupan mental. Emosi berfungsi melandasi dan mewarnainya, sedangkan inteligensi yang mengorganisasikan dan mempolakannya. Kesadaran beragama merupakan dasar dan arah dari kesiapan seseorang mengadakan tanggapan, reaksi, pengolahan dan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang datang dari luar.
Walaupun kesadaran beragama itu melandasi berbagai aspek kehidupan mental dan terarah pada bermacam objek. Akan tetapi tetap merupakan suatau system yang terorganisasi sebagai bagian dari system mental seorang. Dapat dikatakan kesadaran beragama yang mantap itu adalah suatu diposisi dinamis dari system mental yang terbentuk melalu pengalaman serta diolah dalam pribadi untuk mengadakan tanggapan yang tepat, konsepsi pandanagn hidup dan penyesuaian diri merupakan suatu proses yang tidak perbah mencapai kesempurnaan.
G. W. Allport (1962) memberikan tanda-tanda sentimen beragama yang matang, yaitu adanya differensiasi, dinamis, produktif, komperensif, integral, dan keikhlasan pengabdian. Sejalan dengan pendapat G.W. Allport ciri kesadaran beragama yang matang ialah sebagai berikut:
1)      Differensiasi
2)      Motivasi yang dinamis
3)      Pelaksanaan dan ajaran agama secara konsisten dan produktif
4)      Pandangan hidup yang komperhensif
5)      Pandangan hidup yang integral
6)      Semangat pencarian dan pengabdian kepada Tuhan.[2]
B.     Ciri-ciri Kematangan dan Kesadaran Beragama
Dalam bukunya The Varieties of Religious William James menilai secara garis besar sikap dan perilaku keagamaan itu dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu: 1) tipe orang yang sakit jiwa, dan 2) tipe orang yang sehat jiwa. Kedua tipe ini menunjukkan perilaku dan sikap keagamaan yang berbeda.
1.      Tipe Orang yang Sakit Jiwa (The Sick Soul)
Menurut William James, sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada mereka yang pernah mengalami latar belakang kehidupan keagamaan yang terganggu. Maksudnya orang tersebut meyakini suatu agama dan melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang berkembang secara bertahap sejak usia kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa seperti lazimnya yang terjadi pada perkembangan secara normal. Mereka ini meyakini suatu agama dikarenakan oleh adanya penderitaan batin yang antara lain mungkin diakibatkan oleh musibah, konflik batin ataupun sebab lainnya yang sulit diungkapkan secara ilmiah.
Latar belakang itulah yang kemudian menjadi penyebab perubahan sikap yang mendadak terhadap keyakinan agama. Mereka beragama akibat dari suatu penderitaan yang mereka alami sebelumnya. William James menggunakan istilah the suffering. Mereka yang pernah mengalami penderitaan ini terkadang secara mendadak dapat menunjukkan sikap yang taat hingga ke sikap yang fanatik terhadap agama yang diyakininya.
William Starbuck, seperti yang dikemukakan oleh William James berpendapat, bahwa penderitaan yang dialami disebabkan oleh dua factor utama, yaitu factor intern dan factor ekstern. Alasan ini pula tampaknya yang menyebabkan dalam psikologi agama dikenal dua sebutan, yaitu the sick soul dan the suffering. Tipe yang pertama dilatarbelakangi oleh faktor intern (dalam diri) sedangkan yang kedua adalah karena faktor ekstern (penderitaan).
a.       Faktor intern yang diperkirakan menjadi penyebab dari timbulnya sikap keberagamaan yang tidak lazim ini adalah:
1)      Temperamen
2)      Gangguan jiwa
3)      Konflik dan keraguan
4)      Jauh dari Tuhan
Adapun ciri-ciri tindak keagamaan mereka yang mengalami kelainan kejiwaan itu umumnya cenderung menampilkan sikap:
a)      Pesimis
b)      Introvert
c)      Menyenangi paham yang ortodoks
d)     Mengalami proses keagamaan secara non-graduasi
b.      Faktor ekstern yang diperkirakan turut mempengaruhi sikap keagamaan secara mendadak, adalah:
1)      Musibah
2)      Kejahatan
2.      Tipe Orang yang Sehat Jiwa (Healthy-Minded-Ness)
Ciri dan sifat agama pada orang yang sehat jiwa menurut W. Starbuck yang dikemukakan oleh W. Houston Clark dalam bukunya Religion Psychology adalah:
a.       Optimis dan gembira
b.      Ekstrovet dan tak mendalam
c.       Menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal
C.    Tahapan Kesadaran Beragama
            1.      Kesadaran Beragama Pada Masa Anak-anak
Pada waktu lahir, anak belum beragama. Ia baru memliki potensi atau fitrah untuk berkembang menjadi manusia beragama. Bayi belum mempunyai kesadaran beragama, tetapi memliki potensi kejiwaan dan dasar-dasar kehidupan bertuhan. Isi,warna dan corak perkembangan kesadaran beragama anak sangat dipengaaruhi oleh keimanan, sikap dan tingkah laku keagamaan orang tuanya. Keadaan jiwa orang tua sudah berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak sejak janin didalam kandungan.
Ciri-ciri umum kesadaran beragama pada masa anak-anak ialah:
a.       Pengalaman ketuhanan yang lebih bersifat efektif, emosional dan egosentris
Pengalaman ketuhanan dipelajari anak melalui hubungan emosional secara otomatis dengan orang tuanya. Hubungan emosional yang diwarnai kasih sayang dan kemesraan antara orang tua dan anak menimbulkan proses identifikasi, yaitu proses penghayatan peniruan secara tidak sepenuhnya oleh si anak terhadap sikap dan prilaku orang tua. Oleh karena itu penanaman kesadaran beragama pada si anak yang berhubungan dengan pengalaman ke tuhanan hendaknya menekankan pada pemuasan kebutuhan afektif.
b.      Keimananya bersifat magis dan anthropomorphis yang berkembang manuju ke fase realistik.
Keimanan sianak ada tuhan belum merupakan suatu keyakinan sebagai hasil pemikiran yang objektif, akan tetapi lebih merupakan bagian dari kehidupan alam perasaan yang hubungan erat dengan kebutuhan jiwanya akan kasih sayang, rasa aman, dan kenikmatan jasmaniah.
Walaupun sekitar umur delapan tahun sikap anak makin tertuju pada dunia luar.namun hubungan emosional antara kebutuhan pribadinya dengan sesuatu yang goib dan dibayangkan secara konkret.
c.       Peribadatan anak masih merupakan tiruan dan kebiasaan yang kurang dihayati
Pada umur 6-12 tahun perthatian anak yang tadinya lebih tertuju pada dirinya sendiri dan bersifat egosentris mulia tertuju pada dunia luar terutama prilaku orang-orang di sekitarnya. Ia berusaha untuk menjdai makhluk sosial dan mematuhi aturan-aturan, tata krama, sopan santun dan tata cara bertingkah laku yang sesuai dengan lingkungan rumah dan sekolahnya. Pada usia 12 tahun pertama merupakan tahun-tahun sosialisasi, disiplin, dan tumbuhnya kesadaran moral.
            2.      Kesadaran Beragama Pada Masa Remaja
Selaras dengan jiwa remaja yang berada dalam transisi dari masa anak-anak menuju kedewasaan, maka kesadaran beragam pada masa remaja berada dalam keadaan peralihan dari kehidupan beragama anak-anak menuju pemantapan berapgama. Di samping keadaan jiwanya yang labil dan mengalami kegoncangan, daya pemikiran abstrak, logikdan kritik mulai berkembang. Emosinya semakin berkembang, motivasinya mulai otonom dan tidak di kendali oleh dorongan biologis semata,keadaan jiwa remaja yang demikian itu Nampak pula dalam kehidupan beragama yang mudah goyah, timbul kebimbangan, kerisauan dan konflik batin. Disamping itu remaja juga mulai menemukan pengalaman dan penghayatan ke tuhanan yang bersifat individual dan sukar digambarkan kepada orang lain seperti dalam pertobatan.
Ciri-ciri kesadaran beragama yang menonjol pada masa remaja ialah:
a.       Pengalaman ketuhanan semakin bersifat individual
Remaja semakin mengelan dirinya. Ia menemukan dirinya bukan hanya sekedar badan jasmaniah, tetapi merupakan suatu kehidupan psikologis rohaniah berupa pribadi.remaja bersifat kritis terhadap dirinya sendiri dan segala sesuatu yang menjadi miliknya. Ia menemukan pribadinya terpisah dari pribadi-pribadi lain dan terpisah pula dari alam sekitarnya. Pemikiran, perasaan, keinginan dan cita-cita dan kehidupan psikologis rohaniah lainya adalah milik peribadinya.
b.      Keimanan makin menuju realitas yang sebenarnya
Terarahnya perhatian ke dunia dalam menimbulkan kecendrungan yang besar untuk merenungkan, mengeritik dan menilai diri sediri. Introspeksi diri ini dapat menimbulkan kesibukan bertanya-tanya kepada orang lain tentang dirinya. Tentang keimanan dan kehidupan agamanya.
Gambaran dunia pada masa remaja menjadi lebih luas dan lebih kaya, karena tidak saja meliputi realitas yang fisik, tetapi mulai melebar ke dunia yang psikis dan rohaniah. Ia mulai mengerti bahwa kehidupan bahwa kehidupan rohaniah itu mempunyai sifat dan hukum tersendiri dan merupakan satu dunia yang tidak dapat disamakan begitu saja dengan dunia fisik yang mempunyai dimensi ruang.



[1] Jalaluddin. 2012. Psikologi Agama. Jakarta: Rajawali Pers. h. 123-125
[2] Abdul Aziz Ahyadi. 1991. Psikologi Agama; Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung: Sinar Baru. h. 39-50
Copyright by: Toto Si Mandja
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.