Media dan Sarana Islamisasi di Indonesia
Toto Si Mandja – Media dan Sarana Islamisasi di Indonesia
Selain perdagangan sebagai media utama islamisasi di Asia Tenggara (termasuk di Indonesia, Pen), Uka menganalisa beberapa media islamisasi yaitu perkawinan, tasawuf, pendidikan (pesantren), kesenian, politik, serta seni dan kebudayaan. Aktivitas perdagangan biasanya memberikan status perekonomian yang tinggi dan tentunya berada dalam status sosial yang tinggi. Posisi ini memudahkan para bangsawan pedagang untuk membentuk keluarga di tempat dia berdagang dengan melakukan pernikahan dengan penduduk pribumi. Keluarga-keluarga ini nantinya akan membentuk komunitas-komunitas perkampungan yang lambat laun akan menjadi daerah-daerah dan kerajaan Islam. Perkembangan ini akan lebih cepat terjalin ketika perkawinan itu berlangsung antara anak pejabat atau bangsawan. Kasus semacam ini banyak diceritakan dalam babad-babad dan serat. 
Media dan sarana yang mudah dipahami masyarakat lokal memudahkan pemahaman dan penerimaan ajaran Islam. Untuk itu maka para ahli tasawuf memberikan ajarannya dengan memanfaatkan istilah-istilah dan unsur-unsur budaya pra Islam. Hal ini banyak dilakukan oleh tokoh-tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin, Syekh Lemah Abang, Sunan Panggung dengan ajaran masing-masing. Bentuk Islam disesuaikan dengan alam pikiran lokal. 
Lembaga-lembaga yang banyak dipakai untuk menyebarkan Islam juga dapat memanfaatkan lembaga yang sudah ada sebelumnya yaitu Pesanggrahan. Hanya kajian dan bentuknya yang disesuaikan dengan Islam sehingga muncul pesantren-pesantren ataupun pondok. Dalam lembaga ini para guru agama, kyai dan ulama dapat memberikan ajarannya pada para santri. Sekembalinya santri itu ke daerah mereka maka dengan sendirinya akan semakin memperluas ajaran Islam itu sendiri. Kaitannya dengan lembaga ini dikenal banyak para wali, syekh, sunan, kyai, dan tokoh-tokoh lainnya. 
Aneka ragam teknik bangunan, seni arsitektural pra Islam juga dipakai sebagai sarana untuk menyebarkan Islam. Media ini dengan jelas dapat dilihat dari seni bangunan masjid, istana, taman-taman, sampai pada seni pahat, seni tari, seni musik, dan seni sastra.   
Van Leur percaya bahwa motif ekonomi dan politik sangat penting dalam masuk Islamnya penduduk Nusantara. Dalam pendapatnya, para penguasa pribumi yang ingin meningkatkan kegiatan-kegiatan perdagangan di wilayah kekuasaan mereka menerima Islam. Dengan begitu mereka mendapatkan dukungan para pedagang Muslim yang menguasai sumber-sumber ekonomi. Sebaliknya, para penguasa memberi perlindungan dan konsesi-konsesi dagang kepada para pedagang Muslim. Dengan konversi mereka kepada Islam, para penguasa pribumi di Nusantara dapat berpatisipasi secara lebih ekstensif dan mengutungkan dalam perdagangan internasional yang mencakup wilayah sejak dari Laut Merah ke Laut Cina. Lebih jauh, dengan masuk Islam dan mendapat dukungan para pedagang Muslim, para penguasa itu dapat mengabsahkan dan memperkuat kekuasaan mereka, sehingga mampu menangkis jaring-jaring kekuasaan Majapahit. 
Teori yang lebih masuk akal dengan tingkat aplikabilitas lebih luas dibandingkan teori di atas (Van Leur, Pen)  disajikan oleh A.H. Johns. Dengan mempertimbangkan kecilnya kemungkinan bahwa para pedagang memainkan peran terpenting dalam penyebaran Islam, ia mengajukan bahwa adalah para sufi pengembara yang terutama melakukan penyiaran Islam di kawasan ini. Para sufi ini berhasil mengislamkan jumlah besar penduduk Nusantara setidaknya sejak abad ke-13. Faktor utama keberhasilan konversi adalah kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya dengan menekankan kesesuaian dengan Islam atau kontinuitas, ketimbang perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagamaan lokal. Dengan menggunakan tasawuf sebagai sebuah kategori dalam literatur dan sejarah Melayu-Indonesia, Johns memeriksa sejumlah sejarah lokal untuk memperkuat hujjahnya.  
Copyright by: Toto Si Mandja