Mengaku Santri

Coretan

Jujur aja saya malu mengaku santri, karena akhlak saya seperti tai. Tak perlu jijik begitu dengan kata tai, sejijik apapun, kalian mungkin pernah merasakan seduhan kopi tai luwak setiap pagi. Secara fisik memang menjijikan, tapi secara substansi, tai mengandung makna kotor dan ketidakpantasan disisi apapun, termasuk kehormatan. Karena pada dasarnya yang kotor adalah fisiknya, bukan manfaatnya. Loh ko gitu? Jangan terlalu kaku dengan kata itu, haduh kurang halus kedengarannya nih, ganti aja deh pake ee. Buktinya ee wedus berkhasiat ko jadi pupuk kandang. Justru menyuburkan tanaman. Jadi jangan menilai ee dari segi fisik dan pengecap pancaindera. Coba gunakan dengan bijak dan cermati khasiatnya.

Saat yang lain berbondong-bondong mengucap dan merayakan Hari Santri. Saat yang lain bangga dengan kesantriannya. Saya justru merasa tidak pantas disebut santri meskipun pernah mondok beberapa tahun. Hakikatnya bukan hafalan yang menempel. Bukan baca kitab yang ‘ngagorolang’. Tapi lebih jauh dari itu santri adalah orang yang menata akhlaknya menuju akhlak al-karimah. Bukan semasa mondoknya yang berbuat kebaikan, lebih dari itu justru ketika sudah keluar lebih ‘apik’, kontekstual dan bisa mewujudkan salah satu misi nabi ketika diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Bukan tak mau hanyut dalam yoporia. Bukan juga tak mau ikut meramaikan titimangsa lahirnya hari Pahlawan di Surabaya. Bukan tak menghargai santri sebagai pejuang kemerdekaan. Tapi saya terlalu hina mengidentifikasikan akhlak yang ada dalam diri ini. Jika yang lain malu mengaku santri karena akhlak baik dan tidak pernah mondok, saya malah kebalikannya. Apa yang harus saya pertanggungjawabkan kepada kyai, nabi dan Illahi, jika yang katanya ‘santri’ nya seperti ini.

Copyright by: Toto Si Mandja
Rate this article!
Mengaku Santri,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.