Menggenggam Tembelek (Gagal MoveOn)

Coretan

Cinta itu anegerah, ‘katanya’. Cinta memang menyandera banyak waktu kita, dari mulai masa puber hingga orang tua yang menikmati masa-masa puber ke sekian kalinya. Cinta menyita waktu kita untuk berbuat sesuatu di luar selain itu. Jika kita menganggap cinta itu anugerah seharusnya kita syukuri dan tak perlu menghabiskan waktu kita untuk asmara saja, bukan begitu? Tapi jika kita menganggap cinta itu sebuah penjajah, ya mau tidak mau kita harus menuruti apa maunya cinta. Entah itu benar atau salah menurut akal.

Banyak dikalangan muda-mudi yang menjalin asmara tanpa memiliki batas kecintaannya pada seseorang. Sehingga mereka harus membuat momen-momen indah untuk dijadikan kenangan terindah dengan seseorang, dengan seseorang ‘yang sekarang’ loh ya, nah kalo dengan seseorang sebelumnya? Berarti banyak memori yang terpakai sia-sia dong, hanya untuk menyimpan kenangan indah bersama ‘mantan’ atau spesies apa lah itu namanya.

Mereka beranggapan cinta ‘kita abadi untuk selamanya’. Iya abadi. ‘diabadikan foto’ maksudnya. Selain dari itu hanya membuat suram masa depan dengan mengingat-ingat momen-momen indah yang pernah dijalani bersama, meski pun tak sengaja teringat, tapi mereka sengaja membuat kenangan yang tak bisa dilupakan oleh keduanya. Disinilah awal mula seseorang gagal move on dikemudian hari ketika sudah tak lagi bersama, uyeah!

Seharusnya seseorang mempunyai diagram masa keseriusan dengan pasangan. Ini hanya saran loh yah, misalnya masa SMP, main-main, cukup untuk penyemangat ketika sekolah aja. Masa-masa SMA, jangan serius-serius amat lah. Cinta memang tak bisa dihindari, dari mulai anak hingga dewasa, semuanya mengalami. Fokus dulu gapai cita-cita, misalnya lulus S-1, baru seriusin tuh hubungan. Jadi jangan menghambakan diri pada asmara, nanti jadinya semua kegiatan dan pikiran kita terkuras di situ aja. Ingat! Penyesalan itu datang selalu diakhir. Kalo bisa pindahin ke depan aja, caranya? Ya mikir berkali-kali, gimana caranya supaya kamu tidak pernah menyesal di kemudian hari.

Seorang yang jatuh cinta berarti orang yang sudah siap merasakan sakit, karena bermain cinta taruhannya adalah hati. Disakiti, menyakiti, atau tersakiti, tinggal pilih. Permainannya serius juga sama, apalagi main-main. Rasa sakitnya pasti ada, diselingkuhin, diduain, apalah-apalah. Ngurung diri di kamar, mewek ngabisin tisu. Berulang kali gagal, masih aja mencoba mencari pengganti yang lebih baik, endingnya, sakit lagi. Begitu seterusnya sampai benar-benar cucok.

Analogi yang dipakai orang-orang, bagaikan menggenggam duri, dibiarkan sakit, ditekan nambah sakit, dilepas membekas. Sekarang coba ganti analoginya seperti ini, “bagaikan menggenggam tembelek”, dibiarkan bau, ditekan nambah bau, dibersihkan ya ilang baunya. Sedikit jorok memang pake analogi tembelek, tembelek berasal dari bahasa Jawa artinya “kotoran ayam”. Mungkin ini adalah istilah terekstrim yang pernah saya buat, tapi ya nikmati saja lah. Toh Cuma boongankan!

Jangan memvonis pasanganmu adalah jodohmu, karena yang tua saja masih bisa berpisah apalagi yang masih muda belia. Masalah jodoh serahkan saja pada-Nya. Terlalu ikut campur jangan, mengatur-atur Tuhan juga jangan. Biarkan mengalir apa adanya, tapi kita yang buat saluran airnya melalui doa-doa dikeheningan malam. Bukan cuma dia yang bisa membuatmu bahagia. Bukan cuma dia yang bisa membuatmu tertawa. Bukan cuma dia yang bisa membuat hari-harimu berwarna. Tak ada gunanya menangisi yang telah pergi. Biarkan saja dia pergi bersama penghianatannya. Itu artinya Tuhan sedang menyiapkan jodoh yang lebih setia.

Ketika tembelek digenggaman kita, apa yang harus kalian lakukan? membiarkan atau segera dibersihkan? Yah, segeralah bersihkan agar telapak tangan kita kembali bersih dari masa lalu dan menggenggam tangan jodoh yang sudah disiapkan oleh Tuhan. Memang terasa sakit juga, tapi mau sampai kapan membuat ternak sakit di dalam hati. Move On lebih baik daripada mengulas-ulas kenangan yang sangat menyakitkan. Raih masa depan cerah bersama jodoh pilihan Tuhan, bukan dia jodoh yang dipaksakan.

Copyright by: Toto Si Mandja
Rate this article!
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.