Paku Karatan

Artikel

Paku karatan adalah istilah yang kerap kali saya lontarkan untuk menganalogikan alumni. Alumni adalah orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi. Kebangga tersendiri apabila sekolah, perguruan tinggi atau organisasi bisa mengoordinir keberadaan alumninya. Bisa melihat hasil dari proses yang telah dilaluinya selama aktif. Tetapi dewasa ini alumni masih belum mendapatkan posisi yang layak. Namun demikian sebagai alumni tak perlu menunjukkan diri, biarkan mereka memandang Anda dari berbagai kabar burung yang bersuara. Jadilah teko yang berisi air penuh dengan pengalaman, biarkan gelas-gelas kosong itu mendekat dan meminta air pengalaman teko. Jangan sampai teko mendekat dan mengisi gelas kosong tanpa diinginkan gelas, itu hanya perbuatan yang sia-sia. Belum tentu gelas-gelas itu haus, jika pun mereka haus, biarkan mereka mencari air sendiri dan memintanya pada teko.

Jangan beranggapan bahwa Anda di dalam organisasi selalu terlihat seperti paku baru, tanpa karat sedikitpun. Lambat laun Anda pasti akan mengarat seperti halnya paku. Justru mengarat bukan berarti menurunkan harga jual, mengarat adalah arti keluasan pengalaman yang telah didapat. Terkena hujan, panas, tertiup angin, bukan berarti sudah tidak bisa berfungsi lagi. Itu hanya penampilan luar saja. Karena yang baru selalu akan menganggap alumni seperti layaknya paku berkarat yang tak mempunyai hak apapun. Namun pada kenyataannya jika seseorang sudah kehabisan paku yang baru, dia akan mencari paku yang tersisa di gudang, sekarat apapun pasti akan dia pakai. Justru diujung kesempatan ini lah yang berkarat menunjukan siapa dia sebenarnya, yaitu sebagai ujung tombak kemajuan di luar organisasi.

Suatu hari saya observasi ke salah satu SMA di Kuningan, Jawa Barat. Disela-sela kegiatan saya menyempatkan shalat di masjid sekolah tersebut. Melihat-lihat desain masjid yang terlihat modern, saya yakin ini membutuhkan dana yang sangat besar. Tetapi setelah saya keluar dari masjid, saya terkejut sekali ketika melihat tanda peresmian bangunan masjid tersebut. Ternyata tertanda tangan ikatan alumni, ini memancing saya untuk bertanya kepada salah satu guru. “Ini ko bisa salah satu  tandatangannya dari ketua ikatan alumni?” beliau menjawab, “Iya, karena dana pembuatan Masjid ini murni dari ikatan alumni, dan tidak sepeserpun menggunakan dana sekolah.” Saya semakin terkaget, wow luar biasa sekali. Meskipun sudah berkarat tapi paku masih punya manfaat juga yah.

Ternyata bukan hanya paku baru yang bisa membangun rumah, tetapi paku berkarat pun bisa membangun rumah dengan kesederhanaan. Bukan hanya paku baru yang punya semangat menggebu, paku berkarat pun punya semangat yang tak lekang tapi terbatas waktu. Berkarat bukan berarti tak berfungsi, berkarat bukan berarti mati, berkarat bukan berarti tak bisa menyakiti. Jangan pernah mengusik paku karatan, sekali paku karatan terinjak-injak, dia akan menginfeksi kaki, bahkan bisa menyebabkan kaki teramputasi.

Copyright by: Toto Si Mandja
Rate this article!
Paku Karatan,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

2 Responses

  1. author

    Sidti labiebahMaret 24, 2016 at 5:13 pm

    Setelahh menulis dibblog, lanjutkan buat nulis buku 😀

    Saya suka saya suka

  2. author

    Sidti labiebahMaret 24, 2016 at 5:13 pm

    Setelahh menulis dibblog, lanjutkan buat nulis buku 😀

    Saya suka saya suka