Semangat Belajar Menggila di Usia Senja

Sore itu ponselku berdering kencang. Aku yang sedang memijit laptop kesayanganpun berhenti sejenak untuk melirik dan mengangkat panggilan yang masuk.

Ternyata ia adalah seorang penggerak literasi. Namanya tidak asing dan pernah suatu ketika pulang bersama dari kegiatan literasi di Bandung.

Aku yang mengangkat telepon sembari melamunpun hanya mendengar ujung perkataannya saja.

“Siap, mas?”, tanyanya.

“Hah… siap apa bu?”, timpalku.

“Jadi pemateri workshop literasi digital, siap mas?”, tegasnya.

Aku yang masih seumur jagung ini tak langsung mengiyakannya.

“Tidak ada yang lebih dari saya bu? Bukannya yang lebih hebat banyak? Kalau ada, biar yang lain saja.”, bujukku.

Negosiasipun terjadi, seperti juragan tanah ingin membeli tanah para petani di ladangnya. Singkat cerita, dengan berbagai argumen yang ia dikeluarkan, akhirnya akupun mengiyakan.

Siapa yang menyangka, workshop yang sudah direncanakan dengan matang itu ternyata terhalang oleh Covid-19 seminggu sebelum kegiatan berlangsung.

Berbagai siasat dilakukan agar workshop tetap dilaksanakan. Alternatifnya adalah workshop via daring, dilanjut luring, jika pandemi sudah berlalu.

Aku tak mengira sebelumnya, ternyata workshop yang diikuti oleh 50 peserta ini ternyata setengahnya guru berusia lanjut.

“Luar biasa, di usia senja saja mereka begitu semangat berliterasi.”, gumamku dalam hati.

Beberapa hari berjalan workshop via daring, ternyata banyak juga guru-guru yang tidak mengerti teori dan praktik blogging.

“Alamak, pie iki?”, ucapku kebingungan.

Ternyata begini rasanya mengajar orang yang usianya jauh di atas kita. Canggung dan harus telaten.
Sepanjang pembelajaran via daring aku posisikan diri sebagai pelayan mereka.

Setiap malam aku selalu diteror emak-emak dan bapak-bapak yang kebingungan dengan teknis ngeblog. Jam berapapun mereka menggedor WA, aku layani dengan baik.

“Pak, ini gak bisa”.
“Mas, ini kok gini ya?”
“Mas, maaf ganggu, malam-malam gini emak bingung gambarnya kok gak muncul-muncul ya”.
“Pak, saya gak bisa buat blog”.
“Pak, aku pasrah aja deh”.

…dan puluhan keluh kesah lainnya menghujam WA-ku setiap malam.

Tapi, apa mau dikata. Aku adalah pelayan mereka, melayani mereka adalah ibadah.

Tak bisa dibayangkan, bagaimana jika ini berlangsung tanpa daring?

Ampun, mungkin kewalahan.

Pengalaman menjadi instruktur pelatihan komputer di perguruan tinggi, setidaknya peserta yang mengikuti masih muda belia.

Meskipun banyak, tapi anak muda mudah mengerti.

Ini kebalikannya.

Langkah satu-satunya yang aku lakukan jika di teror tengah malam adalah pura-pura tidur, hahaha.

“Biar aku balas besok saja, pikiranpun kembali fresh.” ucapku dalam hati.

Ternyata, andragogi itu nyata ya?
Begini rasanya melibatkan peserta didik dewasa dalam proses pembelajaran.

Teori yang saya dapat di perkuliahan ternyata dialami juga.

Ada hikmah yang dapat dipetik dari kegiatan ini.
Kecintaan terhadap literasi membuat semangat belajar mereka lebih menggila di usia senja.

Kita yang masih muda bagaimana?

Salam Literasi,

2 thoughts on “Semangat Belajar Menggila di Usia Senja

Comments are closed.