Seragamku Sayang Seragamku Malang

Sangat disayangkan beberapa tingkah siswa yang kurang tepat mengungkapkan kegembiraan kelulusan mereka dengan melakukan hal-hal yang tidak diajar bahkan dilarang oleh sekolah. Yah, mencoret-coret seragam sekolah. Ini kampungan sekali, sangat-sangat kurang piknik menurut saya. Ada beberapa sekolah yang sudah mengungkapkan rasa syukur melalui berbagai kegiatan sosial, dan masih ada juga yang melakukan hal-hal yang negatif oleh segerintil siswa.

Jika kita andaikan, mencoret-coret seragam sekolah itu sama dengan tidak menghargai ilmu yang diperoleh dan proses pembelajaran selama sekolah, berarti tidak menghargai guru. Tak sadarkah seragam sekolah kalian terdapat beberapa lambang yang menggambarkan pendidikan. Mencoret lambang OSIS, menghina organisasi kesiswaan. Mencoret lambang sekolah, menghina sekolah. Mencoret lambang jurusan, menghina jurusan. Mencoret papan nama, menghina diri sendiri. Bukankah orang tua kalian membelikan seragam dengan keringat dan kerja keras? Kalian ko tega mencoretnya dengan penuh kebahagiaan. Jika orang tua kalian mengungkapkan isi hatinya, pasti mereka tak ingin kalian seperti itu, lebih baik seragamnya disimpan rapih atau diberikan kepada adik kelas. Itu akan jauh lebih bermanfaat daripada mengotori perjuangan untuk menuntut ilmu. Jadi gak usah lah menghinakan diri dengan mencoret-coret seragam sekolah ketika kelulusan sebagai cerminan kebebasan sistem sekolah yang bersifat mengikat. Kenangan tak akan hilang meski baju tidak dicoret-coret. Jika akhir cerita kelulusan kalian hanya sekedar mengotori seragam, mengapa tidak dari awal sekolah aja dicoret-coret? Supaya terlihat gaul.

Ada baiknya pihak sekolah mencegah peristiwa seperti ini, misalnya beberapa hari sebelum kelulusan semua siswa mengumpulkan seragam putih abu ke wali kelas-masing-masing, termasuk yang memiliki seragam yang lebih dari satu. Kumpulkan di ruangan khusus, dan dibagikan lagi nanti ketika pengambilan ijazah, dengan asumsi pengurusan ijazah dan lain-lain menggunakan seragam selain putih abu. Solusi kedua cegahlah para siswa agar tidak menggunakan seragam, bagaimanapun caranya. Misalnya pengumuman kelulusan online lewat website sekolah, itu mungkin lebih efektif, ketimbang memancing siswa untuk menggunakan seragam yang pada akhirnya konvoi menggunakan motor, dan berbangga mencoret baju seragamnya. Siswa harus mengubah mainset supaya tidak mencoret seragam sebagai bentuk kegembiraan kelulusan. Jadilah pelajar yang dewasa dan elegan. Berani beda dan menjadi bagian dari perubahan karakter generasi muda.

Copyright by: Toto Si Mandja
Rate this article!
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.