Si Bocah Bermuka Pucat Pasi

Coretan

Hari ini adalah hari pertama ulangan tengah semester. Semua siswa berdoa sebelum mengerjakan soal-soal diluar kemampuan mereka. Entah doa mereka dikabul atau tidak. Hal yang pasti bahwa mereka hanya diuji untuk menulis, bukan untuk mengerjakan soal. Pelajaran pertama adalah agama. Siswa ada yang bisa nulis dan ada yang masih meraba-raba bagaimana bentuk huruf yang dieja oleh gurunya.

Sesekali guru melirik ke lembar soal sambil memperhatikan tulisan mereka. Ada tulisan yang sewajarnya saja., kecil seperti ukuran huruf pada soal. Ada pula ukuran huruf yang berukuran jumbo. Maklum lah namanya juga siswa kelas satu.

Terlihat dipojok kelas seorang siswa lelaki yang berkeringat. Saya perhatikan hidung dan dahinya berair. Bibirnya ditekuk ke bawah. Kepalanya ia sandarkan ke meja bertumpang tangan kiri. Menulis pun semaunya. Sesekali ibunya memberikan arahan dari luar jendela. Mungkin maksudnya supaya anaknya mau menulis dan mengikuti apa yang diejakan oleh gurunya.

“Tulis! Diem aja. Jewer aja bu kalo gak mau nulis.” Begitu umpatan ibu kepada anaknya yang enggan menulis dengan mata melotot dan tangan menunjuk. Hampir saja macan menerkam anaknya. Tapi untung terhalang dinding ruangan.

1 orang tak cukup untuk membimbing siswa kelas 1. Saya pun ikut membantu. Dengan rasa iba saya dekati anak itu dan memberikan arahan agar mau menulis. Dari awal memang sudah menulis tapi dengan ukuran huruf yang luar biasa jumbo. Saya pum bingung harus bagaimana membenahi lukisan huruf itu. Bentuknya seperti rangkaian huruf kanji.

Diakhir jawaban yang harus ia tulis. Tubuhnya mulai melunglai seperti kehilangan energi. Keringatnya bertambah deras keluar dari hidung dan dahinya. Ibunya masih enggan menormalkan matanya. Ia terus melotot dengan raut muka sinis. “Lama-lama guaakan juga nih anak” mungkin begitu ucap dalam hatinya.

Tapi ada yang membuat dia kembali semangat dan bugar. Setelah bu guru mengucap “udah, kumpulkan kertasnya”. Tekanan begitu dahsyat dari soal-soal yang diluar batas kemampuan siswa. Anak seumurnya belum bisa untuk mengerjakan soal seperti itu. Meski pun guru membantu mencari jawabannya. Ulangan yang paling baik untuk anak kelas 1 adalah menulis, menulis dan menulis. Tanpa harus diuji dengan soal-soal yang membuat mereka merasa horor seolah berjalan di tengah malam melewati kuburan.

Copyright by: Toto Si Mandja
Rate this article!
author

Author: 

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.

Related Posts

Comments are closed.