Tradisi Terbangan Papat di Makam Sunan Muria

Oleh: Neni Rohaeni
 
Sunan Muria yang juga dikenal ketika mudanya sebagai Raden Umar Said, atau yang biasa juga disebut Raden, merupakan ssalah seorang dari kesembilan wali yang terkenal di Jawa. Menurut Sutejo K. Widodo (2014), dari berbagai riwayat menyebutkan bahwa ia adalah putera dari Sunan Kalijaga.

Secara faktual Makam Sunan Muria yang terletak di Puncak Gunung Muria, sekitar 18 kilometer dari kota Kudus dikunjungi oleh ribuan orang dari berbagai penjuru, dan oleh karena itu Denys Lombard menyebut makam Sunan Muria sebagai salah satu makam keramat besar yang berada di wilayah Kudus. Peziarah paling banyak mengunjungi kompleks Masjid dan Makam Sunan Muria pada bulan Sura (Muharam), Mulud (Rabiul Awal), Rajab, dan Sya’ban.

Adapun kegiatan tradisional yang tampak dalam kegiatan-kegiatan keagamaan Makam Sunan Muria yang dapat diidentifikasi adalah kesenian Terbangan Papat. Terbangan berasal dari kata terbang yang berarti gendang berbentuk bulat dan pipih yang terbuat dari bingkai kayu yang dibubut dengan salah satu sisi untuk ditepuk yang dilapisi kulit kambing atau sapi, sedangkan papat berarti empat. Terbangan papat terdiri atas empat buah terbang kecil dan satu buah jidur. Kesenian tradisional ini sangat popular pada komunitas santri pesisiran di nusantara.

Kesenian terbangan papat di Makam Sunan Muria  biasanya mengiringi dan melengkapi setiap proses upacara, misalnya Guyang Cekathak  dan Ganti Luwur  yang menjadi rangkaian acara haul Sunan Muria. Pada kegiatan-kegiatan tersebut terbang biasanya dimainkan oleh empat orang penabuh rebana dan dua orang pemilul jidur (bedug) yang menabuh jidur secara bergantian.

Kesenian terbangan papat di Makam Sunan Muria juga melantunkan syair-syair pujian (shalawatan) kepada Nabi Muhammad SAW mengikuti syair-syair pujian yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat di antaranya adalah Berjanjen (Al-Barzanzi). Tidak ada syair atau pujian khusus yang dilantunkan disetiap upacara di Makan Suan Muria, kelompok terbangan ini terkadang juga menyanyikan (shalawatan) misalnya, thala’al badru, asshalatu ‘alannabiy, dan lain sebagainya.

Copyright by: Toto Si Mandja

Toto Si Mandja has written 512 articles

Tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.